Pihak Dewan Keamanan Nasional Ukraina mengatakan jika pihaknya masih menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737 milik Ukraine International Airlines (UIA) yang diduga terkena serangan balasan dari Iran untuk AS.
- Nidya Putri
- Jumat, 10 Januari 2020 - 19:43 WIB
WowKeren - Pesawat Boeing 737 milik Ukraine International Airlines (UIA) dilaporkan telah terjatuh di Teheran, Iran pada Rabu (8/1) lalu. Akibat dari kejadian tersebut, 176 penumpangnya dilaporkan meninggal di lokasi kejadian.
Kejadian lantas menimbulkan spekulasi yang menyebutkan jika pesawat tersebut terjatuh karena menjadi korban serangan balasan yang diluncurkan Iran untuk pangkalan militer Amerika Serikat di Irak. Pasalnya, di hari yang sama Iran meluncurkan belasan rudal balistiknya ke Irak demi membalaskan kematian Mayjen Qasem Soleimani. Sedangkan kecelakaan pesawat itu terjadi sekitar 3,5 jam setelah rudal ditembakkan.
Peristiwa tersebut membuat otoritas Ukraina menyelidiki dugaan tersebut. Penyelidikan ini didasari oleh informasi soal serpihan rudal buatan Rusia di lokasi jatuhnya pesawat di pinggiran Teheran.
Dikutip Reuters dan media Inggris The Independent, Jumat (10/1), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Oleksiy Danilov, menuturkan bahwa para penyidik yang ada Iran kini tengah mencari puing atau serpihan rudal atau bukti-bukti, yang mendukung teori serangan rudal sebagai penyebab jatuhnya pesawat.
"Sebuah serangan roket, mungkin sistem rudal Tor, termasuk di antara teori-teori yang sedang diselidiki, karena ada informasi di internet soal elemen rudal ditemukan di dekat lokasi kecelakaan," ujar Danilov dalam pernyataannya.
Diketahui sedikitnya terdapat dua foto yang diduga serpihan rudal muncul di media sosial dengan informasi spesifik yang menyebutkan jika serpihan tersebut berasal dari rudal Tor buatan Rusia. Menurut data penerbangan, pesawat Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan PS752 itu lepas landas secara wajar dari Bandara Internasional Imam Khomeini Teheran pada Rabu (8/1) pagi, sekitar pukul 06.12 waktu setempat.
Namun, saaat pesawat hendak mengudara menuju ibu kota Kiev, Ukraina terjadi masalah serius pada ketinggian 8 ribu kaki (2.400 meter) dan berhenti mengirimkan data. Sementara itu, dalam video yang beredar di internet pesawat tersebut terbakar sebelum jatuh ke daratan dan memicu bola api serta ledakan.
Menurut penyidik Ukraina, rudal buatan Rusia tersebut biasanya digunakan untuk serangan anti-pesawat pada ketinggian rendah. Iran diketahui membeli 29 rudal Tor dari Rusia dalam kesepakatan senjata besar-besaran tahun 2007 lalu. Rudal Tor yang juga disebut SA-15 Gauntlet oleh NATO ini dirancang untuk bergerak cepat dan mematikan terhadap target hingga ketinggian 6 ribu meter dan hingga jarak 12 kilometer.
(wk/nidy)