Prediksinya 'Meleset', BMKG Jelaskan Kenapa Tak Jadi Ada Cuaca Ekstrem di Jabodetabek 8-12 Januari
Nasional

BMKG sempat memprediksi terjadinya cuaca ekstrem dan hujan berintensitas tinggi di wilayah Jabodetabek pada 1-15 Januari 2020. Prediksi ini diperkuat oleh peringatan yang dikeluarkan Kedubes AS.

WowKeren - Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sempat memprediksi terjadinya cuaca ekstrem dan hujan berintensitas tinggi di wilayah Jabodetabek pada 1-15 Januari 2020. Kedutaan Besar Amerika Serikat juga memperkuat prediksi BMKG ini dengan mengeluarkan peringatan dini tentang cuaca buruk untuk periode 10-12 Januari 2020.

Namun, prediksi BMKG tersebut rupanya tidak menjadi kenyataan. Diketahui, cuaca buruk tidak terjadi di Jabodetabel pada 5-12 Januari kemarin, hanya ada hujan berintensitas rendah yang terjadi di sejumlah wilayah.

Menanggapi prediksi yang "meleset" tersebut, Kepala BMKG Dwikorita pun membeberkan penjelasan. Menurut Dwikorita, prediksi cuaca buruk di Jabodetabek disebabkan fenomena gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO).

"Tanggal 3 Januari lalu telah diprediksi BMKG akan terjadi di wilayah Indonesia mulai tanggal 5 sampai 15 Januari 2020 sebagai akibat dari adanya fenomena MJO atau masuknya aliran udara basah dari arah Samudera Hindia di sebelah timur Afrika yang bergerak di sepanjang ekuator menuju Samudera Pasifik dan melintas masuk Indonesia," tutur Dwikorita dilansir Kumparan pada Senin (13/1). "Diprediksi mulai tanggal 5 Januari mulai dari sebelah barat Sumatera Barat melintas hingga mencapai wilayah Sumatera Selatan dan Jawa yang berakibat memicu pembentukan awan hujan dalam skala besar dan masif."


Namun dalam perjalanannya, tutur Dwikorita, fenomena MJO tersebut mengalami pergeseran wilayah akibat terbawa angin. Fenomena itu bergeser ke wilayah Indonesia tengah, yang membuat intensitas hujan di wilayah barat termasuk Jabodetabek berkurang.

"Kemudian (intensitas hujan) menurun mulai 11 Januari karena aliran udara basah tersebut telah bergerak memasuki wilayah Indonesia tengah," jelas Dwikorita. "Selanjutnya mulai 11 sampai 15 Januari diprediksi bahwa yang meningkat intensitas hujannya justru di Kalimantan dan Sulawesi bukan di Jabodetabek lagi karena aliran udara basah (MJO) sudah bergerak memasuki wilayah Indonesia bagian tengah atau meninggalkan wilayah Indonesia bagian barat termasuk Jabodetabek."

Lebih lanjut, Dwikorita meminta warga yang berada di Indonesia tengah untuk waspada terhadap cuaca ekstrem mulai 11 hingga 15 Januari 2020. "Periode 11 sampai 15 Januari aliran udara basah mulai masuk wilayah Indonesia Tengah (Kalimantan dan Sulawesi), sehingga intensitas hujan di Jabodetabek mulai menurun," terang Dwikorita.

Dampak fenomena MJO sendiri disebut Dwikorita masih terasa cukup kuat di wilayah Indonesia barat pada 9 dan 10 Januari kemarin. Hujan intensitas sedang diketahui terjadi di beberapa wilayah, namun tidak separah hujan pada 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020 lalu.

"Pengaruh MJO masih cukup kuat di wilayah Jawa," pungkas Dwikorita. "Barangkali TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) cukup efektif mengurangi intensitas hujan pada tanggal 9 sampai 10 Januari khususnya di Jabodetabek."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait