Guru Besar Guru Besar FKH IPB University Prof. drh. Ekowati Handharyani, PhD, APVet menyebut virus itu memang tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar namun ditularkan ke hewan lain dan manusia.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 30 Januari 2020 - 17:11 WIB
WowKeren - Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University Prof. drh. Ekowati Handharyani, PhD, APVet, melakukan penelitian terhadap kelelawar di Indonesia. Penelitian itu ia lakukan sejak 2010.
Melalui penelitian itu, ia menemukan beberapa patogen pada kelelawar buah yang berpotensi zoonosis. Patogen sendiri merupakan organisasi yang membawa penyakit. Sedangkan jika patogen tersebut memiliki potensi zoonosis maka penyakit yang dibawanya bisa ditularkan ke makhluk hidup lainnya, dalam hal ini hewan dan manusia.
"Patogen adalah organisme pembawa penyakit," kata Ekowati di Bogor, Rabu (29/1). "Apabila berpotensi zoonosis artinya penyakit-penyakit tersebut dapat ditularkan dari hewan ke manusia."
Dari penelitiannya itu, ia menemukan sejumlah patogen jenis virus yang ada pada kelelawar. Salah satunya virus yang saat ini tengah ramai dibahas, corona.
Patogen tersebut memang tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar namun bisa berpindah ke hewan ataupun manusia yang pada akhirnya menyebabkan penyakit. Selain virus corona, ada virus-virus lainnya yang terdapat pada kelelawar yakni bufavirus, polyomavirus, alphaherpesvirus, paramyxovirus dan gammaherpesvirus.
"Kita melihat bahwa di dalam kelelawar ternyata patogen yang berbahaya yang termasuk salah satunya corona virus itu," ujar Ekowati. "Tapi kelelawar itu sehat."
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa virus corona sendiri ada empat jenis yakni phacoronavirus, betacoronavirus, gammacoronavirus, dan deltacoronavirus. Gamma dan deltacoronavirus yang paling patogen atau berbahaya untuk hewan.
Ekowati memperkirakan ada ribuan spesies kelelawar di Indonesia dengan ukuran kecil hingga besar. Kelelawar-kelelawar tersebut juga tak hanya pemakan buah namun ada juga yang merupakan pemakan serangga. Ia kemudian mencontohkan daerah-daerah dimana interaksi antara manusia dan kelelawar cukup tinggi, yakni di Sulawesi, Sumatera Barat, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Masyarakat di daerah-daerah tersebut menangkap kelelawar untuk dikonsumsi. Interaksi semacam inilah yang menjadi media penyebaran patogen.
"Jadi tetap perlu adanya sikap lebih hati-hati kepada hewan satu ini," ujar Ekowati. "Karena penularan penyakitnya bisa melalui urin atau air kencing kelelawar dan air liurnya."
(wk/zodi)