Faktor lemahnya penerapan kebijakan pemerintah dalam menekan laju penyebaran COVID-19 ditengarai menjadi penyebab tingginya peningkatan jumlah kasus setiap harinya.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 31 Maret 2020 - 16:15 WIB
WowKeren - Kasus corona di Indonesia semakin bertambah setiap harinya. Bahkan kasus tersebut diprediksi akan mencapai puncaknya pada Mei hingga Juni mendatang, yang mana hal itu akan bertepatan dengan momen lebaran.
"Dari perolehan data tersebut dihasilkan prediksi periode puncak terjadi antara 70 sampai 100 hari dari kasus pertama ditemukan," kata seorang peneliti Joko Hariyono dalam laporan hasil penelitiannya, Selasa (31/3). Adapun penelitian yang dilakukannya menggunakan metode prediksi berbasis konteks dalam menentukan periode puncak penyebaran corona.
Selain itu, penelitian tersebut juga dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa konteks sebagai variabel deviasi. Hal tersebut diperlukan untuk menentukan rentang waktu dari awal wabah COVID-19 terjadi di tanah air, hingga Indonesia dinyatakan sembuh dari wabah.
Adapun konteks yang menjadi pertimbangan antara lain langkah kebijakan yang diambil oleh pemerintah yang terintegrasi dengan seluruh daerah di tanah air, kesiapan penyelesaian secara masif serta bagaimana mendisiplinkan rakyat untuk melakukan tindakan preventif guna menekan angka penyebaran corona.
Diperkirakan, jumlah kasus orang yang positif terinfeksi corona akan berada di kisaran angka 10 ribu saat masa akhir penyebaran virus tersebut. Diketahui, setiap hari jumlah pasien positif corona di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan.
Hal itu tak lepas dari lemahnya penerapan kebijakan pemerintah. "Faktor lemahnya penerapan ketegasan Pemerintah ini yang ditengarai peningkatan angka penambahan harian yang tinggi," ungkapnya.
Periode krisis dengan angka penambahan pasien yang meningkat drastis diperkirakan akan berlangsung pada rentang 40-70 hari. Sedangkan waktu penyembuhan diprediksi akan memakan sekitar 120-150 hari sejak kasus pertama diumumkan atau sekitar Juni hingga Juli.
Sebelumnya, Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memproyeksikan skenario terburuk, pada pada hari ke-70 yakni sekitar pertengahan Mei 2020 jumlah kasus bisa mencapai 200 ribu. Pasalnya, tindakan pemerintah dalam menghadapi COVID-19 masih terbilang lunak. Lunak di sini maksudnya, tindakan hanya sebatas imbauan untuk tetap berada di rumah, social distancing dan meliburkan sekolah.
(wk/zodi)