Pemerintah diharap tak terkecoh dengan laporan jumlah kasus Corona di Indonesia saat ini yang tergeser sementara oleh Singapura dengan selisih jumlah 13 pasien. Sebab, angka kematian di Indonesia akibat Corona masih menjadi yang tertinggi se-ASEAN.
- Wahyu
- Senin, 20 April 2020 - 16:13 WIB
WowKeren - Kasus positif virus Corona (COVID-19) di Indonesia semakin meningkat. Hingga Minggu (19/4) jumlahnya menjadi 6.575 kasus, 686 sembuh, dan 582 meninggal.
"Konfirmasi positif COVID-19 adalah 6.575 orang, dari kasus konfirmasi positif yang kita dapatkan, sembuh 686 orang dan yang meninggal adalah 582 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto melansir Kumparan, Senin (20/4).
Indonesia yang sempat menjadi negara tertinggi kasus Corona se-Asia Tenggara, kini posisinya tergeser oleh Singapura. Otoritas kesehatan Singapura pada Minggu (19/4) melaporkan 596 kasus baru. Total kasus COVID-19 di Singapura sebanyak 6.588. Sedangkan korban jiwa COVID-19 sebanyak 11 orang. "Dari 596 kasus, hanya 25 warga Singapura atau permanent residents," ucap Kemenkes Singapura.
Kendati demikian, Indonesia tetap menjadi negara di Asia Tenggara dengan jumlah kematian akibat Corona paling banyak. Oleh karena itu, Indonesia tetap harus waspada meski sekarang posisi tergeser ke peringkat dua. Pemerintah juga diharapkan agar tidak terkecoh dengan laporan jumlah tersebut.
Kebanyakan kasus baru di Singapura terdapat di asrama para pekerja migran. Pada Sabtu saja, setidaknya ada 893 pekerja asing di asrama yang positif virus Corona. Pada Minggu, ada 544 kasus positif dari para pekerja di asrama tersebut.
KBRI Singapura menyebutkan tidak ada WNI di antara para pekerja tersebut. "Di dorm (asrama) kebanyakan pekerja asing Asia Selatan, seperti Bangladesh dan Sri Lanka," kata pejabat fungsi Konsuler KBRI Singapura. Ratna Tri Lestari Harjana.
Diberitakan CNN, para pekerja itu dikarantina di asrama-asrama dalam keadaan yang penuh sesak, jadi tempat potensial penyebaran Corona. Tidak diketahui dari mana mereka tertular, dari dalam Singapura atau dari negara mereka.
"Asrama-asrama ini seperti bom waktu menunggu untuk meledak. Cara Singapura memperlakukan pekerja asing bukan Kelas Dunia Pertama tapi Dunia Ketiga. Mereka tinggal di asrama yang sesak seperti sarden, dengan 12 orang dalam satu kamar," kata Tommy Koh, pengacara dan mantan diplomat Singapura, di akun Facebooknya bulan ini.
(wk/wahy)