Anies Ingatkan Tenaga Medis Bukan Garda Terdepan Lawan COVID-19: Mereka Pertahanan Terakhir
Getty Images
Nasional

Anies menyebut jika garda terdepan dalam melawan corona adalah masyarakat. Sementara tenaga medis yang terdiri dari dokter dan perawat justru berada di garda paling belakang.

WowKeren - Tenaga medis terus berjuang seiring dengan meningkatnya pasien corona di Indonesia. Mereka disebut-sebut sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini.

Namun, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai pandangan tersebut tak sepenuhnya benar. Ia menyatakan jika tenaga medis bukanlah garda terdepan dalam berperang menghadapi corona.

Hal tersebut dikemukakan Anies saat melakukan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dihadapan para Menteri. Dalam Musrenbang itu, Anies menyebut jika garda terdepan dalam melawan corona adalah masyarakat. Sementara tenaga medis yang terdiri dari dokter dan perawat justru berada di garda paling belakang.

Artinya, mereka menjadi pertahanan terakhir. "Tenaga medis bukan garda terdepan. Mereka adalah garda belakang. Tenaga medis adalah pertahanan terakhir," ujar Anies, Kamis (23/4).

Lebih lanjut, Anies mengungkapkan hal terpenting dalam menghadapi virus corona adalah menghentikan penularan semaksimal mungkin. Sebab, virus ini tidak sama dengan penyakit mematikan lainnya seperti TBC misalkan.


"Pada urusan Covid, masalahnya adalah pada penularannya," jelas orang nomor satu di Jakarta tersebut. "Karena itu untuk kita bisa menghambat penularan Covid maka pencegahan jadi penting. Garda terdepan kita semua."

Oleh sebab itu, masyarakat sebagai garda terdepan harus mampu mencegah penularan virus mematikan ini. Sebab jika jika ada penambahan pasien baru lagi maka beban tim medis yang ada di pertahanan terakhir akan semakin berat.

"Tapi bagian belakang pertahanan itu tidak akan bekerja dengan baik bila beban mereka terus-menerus bertambah," ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. "Karena kita yang di depan tidak mencegah penularan."

Anies mengingatkan masyarakat untuk benar-benar disiplin dalam mencegah penularan. Sebab jumlah pasien yang meningkat tak selalu dibarengi dengan jumlah tenaga medis yang memadai,. Begitu pula dengan rumah sakit rujukan. Jika hal ini terjadi maka di situlah malapetaka akan terjadi.

"Jumlah pasien bertambah, dokter jumlahnya tetap," tutur gubernur. "Rumah sakit jumlahnya tetap, kapasitasnya terlampaui di situlah terjadi malapetaka."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait