Ahli Epidemiologi membeberkan indikator-indikator kapan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah diterapkan di sejumlah wilayah Indonesia dapat dicabut.
- Ruth Meliana
- Jumat, 24 April 2020 - 19:45 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah. Kebijakan ini diterapkan demi mencegah penyebaran virus corona (COVID-19) semakin meluas.
Ahli Epidemiologi Dicky Budiman menjelaskan jika kebijakan PSBB yang dilakukan pemerintah sendiri tidak dilakukan secara asal. Pasalnya, ada sejumlah syarat yang perlu dipenuhi setiap wilayah yang mengajukan PSBB agar dapat efektif dalam mengantisipasi penyebaran virus corona.
Dicky juga menjelaskan indikator utama dan waktu ideal kapan sebaiknya PSBB dapat dihentikan. Menurutnya, PSBB dapat dicabut jika tes virus corona telah dilakukan secara cepat dan massal.
Sebagai contoh jika cakupan tes COVID-19 sudah meningkat dan proporsional, misalnya 10 ribu tes sehari di Jakarta selama sebulan. Kemudian, pelacakan kasus kontak dengan pasien positif sudah mencapai 90 persen.
”Kalau nanti PSBB diangkat (dihentikan), kita harus punya kriteria," ujar Dicky seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (23/4). “Harusnya 100 persen, tapi 90 persen oke lah. Tidak boleh di bawah 90 persen.”
Indikator selanjutnya berasal dari isolasi hasil pelacakan kontak. Misalnya, dia berkata orang yang kontak dengan kasus positif diisolasi pada satu wilayah untuk menjamin mendapatkan dukungan dari pemerintah.
”Orang kontak ini kan ada yang secara sosial ekonomi dia rawan kan. Tidak semuanya orang mampu. Kan penyakit ini tidak ada pilih orang kaya atau miskin," jelas Dicky. “Ketika DKI memiliki kebijakan isolasi central itu akan sangat bagus. Sehingga semua yang kontak tracing bisa dikendalikan selama beberapa waktu.”
PSBB juga bisa dicabut jika physical distancing benar-benar dilakukan secara disiplin oleh masyarakat. Hal ini dilakukan dengan mengukur kepatuhan masyarakat selama ini dalam menjaga jarak fisik sehingga virus corona bisa ditangani sepenuhnya.
”Penyakit ini harus dipahami masih lama. Dan kita belum tahu sampai kapan,” terang Dicky. “Memang saya dalam beberapa kesempatan mengatakan enam bulan, tapi obat belum pasti enam bulan. Bisa mundur sampai akhir tahun depan. Malah satu negara dua tahun.”
Indikator terakhir adalah pemerintah perlu menyiapkan fasilitas kesehatan yang lengkap jika benar-benar ini mencabut PSBB. Hal ini sebagai langkah antisipasi munculnya gelombang kedua wabah corona.
”Jadi PSBB ini tidak bisa menghentikan potensi gelombang lanjutan. Harus dicatat itu. PSBB bukan berati aman,” ungkap Dicky. “Gelombang kedua hanya bisa dicegah jika sekian persen populasi sudah imun atau obat sudah ada. Ini kan belum.”
(wk/lian)