COVID-19 ternyata tak hanya menyakiti fisik, tetapi juga mental individu terdampak. Bahkan perihal mental ini tak hanya mengganggu pengidap COVID-19 tetapi juga orang sehat.
- Elvariza Opita
- Rabu, 29 April 2020 - 18:33 WIB
WowKeren - Bukan hanya merusak fisik penderitanya, virus Corona ternyata juga berdampak buruk bagi kesehatan mental. Hal ini seperti diungkap oleh Kementerian Kesehatan belum lama ini dalam peluncuran aplikasi Sehat Jiwa (Sejiwa).
Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Bambang Wibowo menyebut pandemi ini ikut menghantam telak urusan kesehatan jiwa masyarakat. Tak hanya karena mendapati aktivitas sehari-hari menjadi sangat dibatasi, dampak sosial ekonomi dari pandemi juga sedikit banyak menjadi faktor penyebab.
"Yang terdampak bukan hanya pasien COVID-19. ODP (Orang Dalam Pemantauan), OTG (Orang Tanpa Gejala), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), orang sehat pun terdampak," kata Bambang, lewat video konferensi pada Rabu (29/4).
"Ada kelompok rentan petugas medis, termasuk beberapa kelompok lansia, anak remaja, beberapa kelompok lain termasuk orang gangguan jiwa," imbuhnya, seperti dilansir dari Kumparan. "Dampak COVID-19 ini luas, menyebabkan gangguan kesehatan jiwa."
Bahkan, kata Bambang, wabah COVID-19 ini menambah jumlah gangguan jiwa di masyarakat dibandingkan dengan dampak bencana-bencana lainnya. Meskipun, Bambang tidak menyebutkan angka pastinya.
"Kita perhatikan dampak COVID-19 ini, bandingkan misalnya kasus lain, SARS dan dampak tsunami, wabah ini terjadi peningkatan gangguan kejiwaan dua kali lipat dibandingkan sebelumnya," jelas Bambang. "Dampak bencana ini demikian besar."
Oleh karena itu pemerintah bertekad untuk ikut mengentaskan masalah gangguan kejiwaan yang menjadi efek samping dari pandemi Corona. Salah satunya dengan meluncurkan layanan Sejiwa.
Aplikasi ini, tutur Bambang, merupakan bagian pelayanan kesehatan jiwa bagi yang terdampak COVID-19. Dengan aplikasi ini, pemerintah dapat membantu lewat aktivitas konseling dan layanan kejiwaan bagi mereka yang terdampak COVID-19.
Perihal kesehatan mental di tengah pandemi COVID-19 ini sudah sering disorot sebelumnya. Bahkan pasien pertama COVID-19, Sita Tyasutami, mengaku ada tekanan psikologis yang sempat dialami selama masa penyembuhannya.
Menurut Sita, tekanan tersebut dipicu oleh identitasnya yang terkuak dan juga rumor yang saat itu beredar mengenai dirinya. Oleh karena itu, Sita tetap harus menemui psikolog sampai berjam-jam lamanya, bahkan setelah sembuh, untuk memulihkan pikiran dan batinnya.
(wk/elva)