Seorang ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono menilai jika strategi herd immunity berbahaya apabila dilakukan di Indonesia.
- Nidya Putri
- Kamis, 14 Mei 2020 - 10:41 WIB
WowKeren - Herd immunity kembali menjadi perbincangan hangat di tengah pandemi corona (COVID-19). Pasalnya, strategi kekebalan komunitas tersebut dinilai dapat menghentikan penularan virus berbahaya tersebut.
Sayangnya, beberapa ahli berpendapat bahwa strategi herd immunity sangat berisiko jika diterapkan apalagi di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono.
Menurut Pandu, herd immunity bisa dicapai bila setidaknya separuh populasi penduduk Indonesia atau sekitar 130 juta warga telah terinfeksi COVID-19. Namun, ia menilai Indonesia tidak mungkin mencapai herd immunity karena mempunyai populasi penduduk yang besar.
Herd immunity sendiri sangat berisiko karena mengorbankan nyawa sebagian besar populasi penduduk berusia tua atau penduduk dengan penyakit penyerta atau komorbid seperti, jantung, hipertensi, dan diabetes. Apalagi persentase tingkat kematian akibat COVID-19 di Indonesia tergolong tinggi, konsisten di sekitar angka 8-9 persen.
Di samping itu, warga berusia di bawah usia 45 tahun yang memiliki penyakit penyerta tetap menjadi kelompok dengan risiko kematian tinggi jika terinfeksi COVID-19. “Risiko kebijakan herd immunity sangat besar bila diterapkan di Indonesia. Tidak hanya untuk masyarakat berumur di atas 45 tahun," paparnya. "Namun, warga berumur di bawah 45 tahun yang mempunyai penyakit penyerta atau komorbid seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes tetap mempunyai risiko fatalitas tinggi jika terinfeksi COVID-19."
Lebih lanjut, Pandu mengatakan jika warga berusia di bawah 45 tahun yang terinfeksi COVID-19 juga berpotensi menjadi super spreader. Sebab, kelompok penduduk usia ini seringkali tidak menunjukkan gejala terinfeksi COVID-19 sehingga justru makin membahayakan orang-orang terdekat mereka seperti keluarga.
Menurut data sebaran usia pengidap COVID-19 di Indonesia, mayoritas warga yang terinfeksi penyakit ini justru berusia di bawah 45 tahun. Sebanyak 53,4 persen pasien positif COVID-19 berada di rentang usia tersebut. Sementara persentase pasien berusia lebih dari 45 tahun berjumlah 46,6 persen.
"Ada kesalahpahaman. Meskipun warga berusia di bawah 45 tahun yang terinfeksi COVID-19 tidak menunjukkan gejala, hal itu tetap berbahaya," kata Pandu. "Karena bisa menjadi sumber penularan bagi warga lain."
Ia menambahkan, ketimbang melakukan strategi herd immunity, lebih baik apabila pemerintah mempertegas aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah atau menerapkan kebijakan PSBB di level nasional. Kebijakan tersebut akan lebih efektif mencegah penularan karena secara geografis Indonesia diuntungkan sebagai negara kepulauan.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan jika konsep herd immunity untuk melawan virus corona dinilai berbahaya. Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO Dr Mike Ryan bahkan mengecam keras konsep tersebut.
(wk/nidy)