Menteri Desa, Pembangunan Daerah tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar menyebut jika lokasi lahan tersebar di beberapa daerah.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 15 Mei 2020 - 14:27 WIB
WowKeren - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah menyiapkan lahan transmigrasi seluas 1,8 juta hektare. Hal itu dalam rangka untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia di tengah pandemi corona (COVID-19).
Lahan tersebut rencananya akan digunakan untuk meningkatkan hasil panen padi. Menteri Desa, Pembangunan Daerah tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar menyebut jika lokasi lahan tersebar di beberapa daerah.
"Lahan yang bisa digunakan untuk intensifikasi ada 1,8 juta ha lahan pertanian di 3,2 juta ha kawasan transmigrasi," kata Abdul seperti dilansir dari laman setkab.go.id, Jumat (15/5). "Lokasinya menyebar di beberapa daerah."
Sementara itu, 500 ribu hektare lahan dari total yang ada telah melakukan aktivitas produksi. Program ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan untuk 16 juta orang setiap tahunnya.
Dengan adanya program ini, hasil panen yang sebelumnya berkisar antara 3 ton-4 ton per ha dalam sekali tanam, kini dapat dimaksimalkan menjadi 5 juta-6 juta ton.
"Lahan 500 ribu Ha ini telah memenuhi prasyarat untuk dilakukan intensifikasi," lanjut dia. "Yakni tersedianya tenaga kerja, bibit unggul, pupuk, mekanisme dan irigasi, rice milling, off taker, dan perbankan."
Abdul menilai jika Indonesia harus melakukan peningkatan produktivitas pertanian. Sebab, pandemi corona membuat impor pangan menjadi sulit.
"Karena COVID-19, impor menjadi sulit karena setiap negara memikirkan kebutuhan sendiri," tegas dia. "Kita harus berani untuk berdiri sendiri, makanya UKM dan pertanian digenjot."
Di tengah menghadapi penyebaran pandemi corona, Indonesia juga dihadapkan pada ancaman kemarau panjang hingga akhir tahun nanti. Akibatnya, produksi beras pun diprediksi akan mengalami penurunan tahun ini.
Kondisi ini memaksa pemerintah untuk mengimpor beras dari negara lain. Namun perlu menjadi catatan jika upaya mengimpor beras di tengah pandemi seperti sekarang ini tidak bisa dikatakan mudah. Negara yang merupakan produsen beras, bisa jadi lebih memilih untuk memenuhi kebutuhannya sendiri di tengah pandemi.
(wk/zodi)