Geger 70 Ribu Ton Stok Gula 'Raib' Diduga Ulah Mafia, Kemedag Buka Suara
Nasional

Ketua Aprindo mengaku jika pihaknya tak pernah menerima pasokan gula dengan total 160 ribu ton dari AGRI karena 70 ribu tonnya raib. Menanggapi persolan tersebut Kemendag pun memberikan penjalasan demikian.

WowKeren - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengungkap salah satu penyebab terjadinya kelangkaan stok gula di ritel-ritel modern. Padahal pemerintah sudah menetapkan kesepakatan dengan Aprindo dan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), sekitar 160 ribu ton gula rafinasi dapat dipasok ke gerai-gerai ritel modern.

Roy mengatakan jika pihaknya belum mendapatkan jumlah sesuai perjanjian. Pasalnya sekitar 70 ribu ton stok gula menghilang.

Namun, pernyataan tersebut justru dibantah oleh Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan. Ia mengatakan bahwa sejak awal tak ada kesepakatan agar AGRI memasok 160 ribu ton gula untuk Aprindo.

Menanggapi permasalahan tersebut, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Suhanto mengatakan, memang ada evaluasi dari pihaknya terkait volume gula rafinasi yang akan dipasok AGRI ke Aprindo.

"Jadi pemerintah sesuai dengan rapat bersama memutuskan sudahlah penugasan 160 ribu ton itu kita gelontorkan saja ke ritel modern, dan harapannya juga distributor yang memasok ritel modern juga memasok ke pasar tradisional, 2 jalur," terang Suhanto, Jumat (15/5).


"Ternyata di dalam perjalanannya, kita kan evaluasi 1 minggu setelah itu, kenapa kok ini belum bergerak?" lanjutnya. "Rupanya packer atau distributor yang menyuplai ke ritel modern pun punya keterbatasan."

Dengan kondisi tersebut, Kemendag pun mempertanyakan kemampuan Aprindo menyerap gula rafinasi dalam 1 bulan. Angka terakhir yang diperoleh, kemampuan dari peritel modern tersebut hanyalah 20 ribu ton per bulan. "Setelah dihitung, kami mendapatkan angka dari Aprindo bahwa ritel modern untuk bulan Mei hanya mampu 20 ribu ton," katanya.

Dengan hasil perhitungan kemampuan serap Aprindo, Kemendag pun memutuskan agar AGRI (dan juga Pabrik Gula PT Kebun Tebu Manis) memasok gula rafinasi ke ritel-ritel modern sebanyak 30 ribu ton. "Kami untuk meyakinkan ritel modern, kalau komitmennya hanya 20 ribu ton, sudah kita kesepakatan baru dengan para anggota AGRI Anda kita kasih 30 ribu ton," jelasnya.

Hal tersebut diputuskan, pasalnya pemerintah tidak ingin ada stok yang berlebih di gudang distributor jika kemampuan serap peritel hanyalah 20 ribu ton. Oleh sebab itu, sisa dari 30 ribu ton tersebut diarahkan Kemendag untuk dipasok ke pasar tradisional.

"Sisanya kami minta lagi kepada AGRI disalurkan melalui 2 cara, pertama tetap bekerja sama dengan pedagang pasar melalui jaringannya, tetapi langsung ke pedagang pasar," terangnya. "Cara kedua AGRI kerja sama dengan para pengelola dan dinas-dinas seluruh Indonesia melakukan operasi pasar. Jadi bukan berarti Aprindo nggak dipenuhi, tapi nggak mampu untuk menyerap sebanyak itu (160 ribu ton)."

Ia juga menegaskan bahwa perubahan volume pendistribusian gula rafinasi dari AGRI kepada Aprindo, yang awalnya 160 ribu ton menjadi 30 ribu ton (termasuk dipasok dari Pabrik Gula PT Kebun Tebu Mas), bukanlah mengartikan stok gula tersebut menghilang begitu saja. Namun, pemerintah memang menyesuaikan dengan kemampuan dari peritel modern sendiri. "Bukan menghilang, ada. Aprindo sendiri nggak akan mampu menjual segitu," pungkasnya.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait