Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengizinkan sejumlah Pondok Pesantren kembali dibuka secara bertahap mulai Senin (15/6). Hal ini disayangkan oleh pakar epidemiologi Universitas Airlangga, Windhu Purnomo.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 16 Juni 2020 - 11:03 WIB
WowKeren - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa telah menyatakan bahwa sejumlah pondok pesantren di wilayah Jatim sudah bisa kembali dibuka secara bertahap mulai Senin (15/6) kemarin. Adapun syarat utama agar pondok pesantren dapat kembali menggelar aktivitas pendidikannya adalah wajib menerapkan protokol kesehatan COVID-19 secara ketat.
Keputusan Gubernur Khofifah tertuang dalam Surat Gubernur Jatim bernomor 188/3344/101.1/2020 tertanggal 29 Mei 2020. Surat Gubernur tersebut ditujukan kepada Bupati dan Wali Kota se-Jatim dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.
"Jadwal kembalinya santri ke pondok pesantren dapat dimulai tanggal 15 Juni 2020 dan dilakukan secara bertahap," ujar Khofifah pada Minggu (14/6). "Sesuai dengan kondisi dan kesiapan pondok pesantren masing-masing untuk menerapkan protokol kesehatan dengan mentaati sepenuhnya hasil koordinasi pengelola pondok pesantren dengan pemerintah kabupaten/kota dan Forkompimda setempat."
Namun kebijakan Khofifah ini disayangkan oleh pakar epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Windhu Purnomo. Pasalnya, Windhu menilai penyebaran virus corona di Jatim masih tinggi.
Menurut Windhu, angka reproduksi efektif (Rt) COVID-19 di Jatim masih di atas 1. "Jadi saya tidak mengerti apa pertimbangan dari kepala daerah itu (membuka pesantren), seharusnya tahan dulu karena Rt masih di angka 1," ujar Windhu dilansir CNN Indonesia pada Selasa (16/6).
Lebih lanjut, Windhu menyebut bahwa pesantren termasuk salah satu tempat yang berisiko tinggi terjadi penularan penyakit. Windhu menjelaskan bahwa hal tersebut didasarkan dari pengalamannya kala bekerja sebagai kepala puskesmas di Mojokerto.
"Saya dulu pernah bekerja sebagai kepala Puskesmas di Mojokerto," ungkap Windhu. "Kecamatan saya ada 4 pesantren besar dan saya secara periodik mesti mendatangi pesantren untuk melihat kondisi kesehatan para santrinya."
Windhu menjelaskan bahwa para santri di 4 pesantren besar tersebut bisa berwudhu dalam satu kolam besar tanpa air mengalir dan juga tidur berdesakan dalam 1 kamar. Hal ini disebutnya memudahkan potensi penularan penyakit.
"Mereka itu wudhunya sudah di satu kolam yang besar, tidak pakai air mengalir, tidurnya satu kamar berdesak-desakan itu. Satu sakit mata semua sakit mata," terang Windhu. "Bayangkan kalau ini diaktifkan kembali sementara kondisi belum aman, jadi saya bingung. Pesantren itu kan kondisinya kayak gitu secara umum."
Ia menilai bahwa sekolah biasa saja masih sangat berbahaya jika dibuka kembali saat ini. Terlebih lagi pondok pesantren yang mengharuskan peserta didiknya menginap.
Oleh sebab itu, Windhu meminta agar pengasuh dan pengurus pondok pesantren menerapkan protokol kesehatan dengan ketat jika hendak buka kembali. Menurut Windhu, salah satu pesantren di Jatim yang siap menerapkan protokol kesehatan adalah Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Ponorogo.
"Ada pesantren-pesantren yang lebih siap seperti Gontor. Tapi banyak pesantren di Jatim itu yang seperti itu kondisinya," pungkas Windhu. "Pesantren besar tapi ya itu, secara higienis dan sanitasi nya itu tidak bagus."
(wk/Bert)