Selain untuk mengetahui jumlah pengunjung, scan QR Code juga memungkinkan pengelola mal untuk melakukan tracing pengunjung, terutama jika ada kasus positif.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 16 Juni 2020 - 11:50 WIB
WowKeren - Pusat perbelanjaan akan dibuka seiring dengan penerapan new normal. Namun, tentu saja pembukaan mal harus dengan mematuhi protokol kesehatan ketat sesuai yang ditetapkan pemerintah.
Salah satunya yakni adanya sistem scan QR Code. Dengan adanya sistem ini, diharapkan pengelola mal dapat melakukan penghitungan terkait jumlah pengunjung yang berdatangan.
Sebab, salah satu aturan pembukaan mal adalah bahwa mal harus membatasi jumlah pengunjungnya demi mencegah risiko penularan COVID-19. Namun selain untuk mengetahui jumlah pengunjung, scan QR Code juga memungkinkan pengelola mal untuk melakukan tracing pengunjung.
Dengan begitu, jika nanti ada kasus COVID-19 terdeteksi maka pengunjung lain yang berada dalam satu tenant tersebut secara otomatis akan terhitung sebagai orang dalam pemantauan (ODP).
Meski demikian, perlu adanya pengembangan lebih lanjut terkait penerapan sistem ini. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh General Manager Mal Kota Kasablanka Lusiana.
"Mungkin jangka panjangnya, kita cari program yang benar-benar simpel," kata dia dilansir CNBC Indonesia, Selasa (16/6). "Masih harus ngobrol sama IT-nya. Karena kayanya nggak bisa IT internal, kayanya harus panggil orang."
Mal Kota Kasablanka sudah mulai beroperasi sejak Senin (15/6). Namun, belum menerapkan sistem scan QR Code.
"Tadi kebetulan masuknya dari parkiran," kata Moh Lutfi, salah satu pengunjung dari Kalibata masih dilansir dari CNBC Indonesia. "Sebelum masuk sudah coba menyiapkan, jaga-jaga khawatir malah ada antrean. Tapi ternyata nggak ada scan QR Code."
Lebih lanjut, Lusiana mengakui jika di hari pertama pembukaan mal belum bisa menerapkan scan QR Code. Sebab, ada kendala sistem yang belum siap. Oleh sebab itu, pihaknya akan memodifikasi sistem tersebut agar lebih praktis.
"Misal kalau berlima ada anak dan orang tua. Belum tentu mereka punya handphone masing-masing," terangnya menjelaskan. "Kalau pun ada, mungkin dampaknya macet ke traffic panjang. Akhirnya kita lagi modif dengan barcode langsung 3 orang, 5 orang atau 10 orang sekaligus."
(wk/zodi)