PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mencatat jumlah penumpang KRL pada pekan ini ada lebih dari 350 ribu orang. Tingginya jumlah penumpang dipengaruhi beragam faktor, salah satunya sistem perkantoran di DKI Jakarta.
- Nidya Putri
- Jumat, 03 Juli 2020 - 09:50 WIB
WowKeren - Jumlah penumpang kereta rel listrik (KRL) selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi di DKI Jakarta kembali bertambah. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sendiri mencatat jumlah penumpang KRL pada pekan ini ada lebih dari 350 ribu orang.
"Pada Selasa (30/6) kemarin tercatat volume pengguna KRL mencapai 374.893 pengguna," ujar VP Corporate Communication PT KCI Anne Purba, dalam keterangannya, Jumat (7/3). "Sementara sehari sebelumnya pada Senin (29/6) volume pengguna KRL adalah 393.498."
Anne menyebut kedua hari tersebut merupakan jumlah penumpang tertinggi selama masa PSBB. "Jumlah pengguna pada dua hari tersebut adalah yang tertinggi selama masa PSBB, bahkan tertinggi sejak 21 Maret 2020 saat PSBB belum berlaku," ungkapnya.
Ia menuturkan tingginya jumlah penumpang dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya perkantoran di Jakarta yang mulai beroperasi. "Tingginya volume pengguna KRL ini tentu sejalan dengan semakin banyaknya sektor ekonomi, perkantoran, dan berbagai jenis usaha yang kembali buka seiring dengan berakhirnya PSBB," katanya.
Lebih lanjut, Anne menjelaskan jika pemerintah pusat sudah membuat aturan mengenai sistem kerja shift di pekantoran. Namun, baru sedikit perusahaan yang menerapkan sistem tersebut. "Namun sampai saat ini, masih sangat sedikit yang menerapkan sistem kerja tersebut sehingga antrean pengguna masih cukup panjang terutama pada pagi hari," tuturnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya menyoroti lonjakan penumpang KRL pada pekan ini. Ia bahkan mempertanyakan kebijakan yang diterapkan oleh perkantoran di Jakarta selama masa PSBB Transisi berlaku.
"Penumpang kereta hari Senin dan hari Selasa kemarin, penumpang kereta cukup banyak, bahkan mendekati kondisi normal. Bus bukan solusi, tidak mungkin ribuan bus kita siapkan setiap hari," kata Bima Arya, Kamis (2/7). "Jadi solusinya hanya dua. Pertama adalah pengaturan shift kerja perkantoran di Jakarta. Nah, saya rasa ini belum berjalan maksimal, bahkan jangan-jangan belum berjalan."
(wk/nidy)