COVID-19 Tak Kunjung Mereda, Akademisi Ungkap 6 Klaster Masyarakat Bermasalah
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Salah satu golongan masyarakat yang sulit diedukasi terkait pencegahan COVID-19 adalah mereka yang anti sains. Mereka meyakini jika sains tak lebih dari kebohongan.

WowKeren - Meski pandemi COVID-19 telah menjadi ancaman serius di Indonesia, rupanya tidak semua lapisan masyarakat paham betul mengenai dampak dan bahaya virus ini.

Alhasil, penyebaran wabah ini pun tak kunjung mereda bahkan kian meningkat setiap harinya. Di sejumlah daerah di Jatim, masih banyak warga yang memilih untuk merahasiakan jika anggota keluarganya terinfeksi COVID-19.

"Jadi narasi edukatifnya rendah," kata Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya Ahmad Zainul Hamdi dalam sebuah diskusi daring, Jumat (3/7). "Yang dikencangin malah narasi menakutkan dan ancaman yang cenderung menyudutkannya warga (yang terpapar)."

Ahmad membeberkan enam klaster kelompok yang bermasalah di masa pandemi. Yang pertama adalah masyarakat yang memiliki literasi rendah terkait COVID-19. Masyarakat golongan ini tidak tahu mengenai COVID-19 dan apa yang harus dilakukan agar tak terpapar dan mencegah penyebarannya. Lalu di golongan kedua adalah masyarakat yang harus tetap bekerja untuk bertahan hidup.


Sehingga meskipun ada kebijakan karantina wilayah, ataupun isolasi mandiri, mereka tetap akan keluar untuk mencari nafkah selama tidak ada jaminan kebutuhan mereka bisa terpenuhi. Sayangnya, tidak semua orang yang nekat beraktivitas di luar rumah mau mematuhi protokol COVID-19.

"Mereka rata-rata berpendidikan rendah," lanjut Ahmad. "Sehingga mereka sangat tidak disiplin untuk melakukan protokol COVID-19 ketika beraktivitas ke luar rumah."

Lalu golongan ketiga adalah masyarakat 'ndableg' atau bandel. Masyarakat golongan ini tahu bahaya COVID-19 namun cenderung sembrono dan menantang. Keempat, ia menyebut ada golongan masyarakat yang anti sains. Kelompok ini sangat sulit diedukasi karena menganggap sains tidak lebih dari sekadar kebohongan.

Bahkan ada golongan masyarakat yang meyakini jika COVID-19 tak lebih dari sekadar konspirasi. "Bahkan ada yang menyebut COVID-19 ini sengaja dibuat untuk membuat umat Islam tidak berangkat ke mesjid dan mesjid menjadi sepi serta digerogoti akidahnya," tuturnya.

Keenam adalah kelompok masyarakat yang terologinya fatalistik. Mereka berpandangan, karena wabah ini virus, virus itu makhluk, virus itu ciptaan tuhan, tuhan maha besar maka tidak boleh melarang orang berdoa secara massal di masjid. "Maka yang paling berbahaya menurut saya tiga kelompok terakhir," ujarnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts