Banyak Klaster Baru Bermunculan, Pemerintah Akui Salah Gunakan Istilah 'New Normal'
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Munculnya klaster baru COVID-19 diduga karena ada kebingungan yang terjadi di masyarakat terkait penggunaan istilah 'new normal'. Penggunaan istilah tersebut membuat masyarakat merujuk ke kata 'normal' yang berarti beraktivitas seperti biasa.

WowKeren - Jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia meningkat tiap harinya. Hingga Jumat (10/7), tercatat ada 1.611 orang yang dinyatakan positif sehingga total keseluruhan penderita COVID-19 di Tanah Air ada 72.347 pasien.

Tak hanya itu, sejumlah klaster baru pun mulai bermunculan. Mulai klaster industri, perusahaan hingga yang terbaru klaster asrama seperti secapa AD di Bandung.

Diketahui, hal ini disebabkan karena adanya istilah normal baru atau new normal yang dinilai masyarakat jika keadaan RI sudah bebas dari wabah berbahaya tersebut. Poin ini kemudian menjadi sorotan pemerintah dan berakhir dengan memperbaiki pola komunikasi.

"Diksi new normal dari awal diksi itu segera kita ubah, new normal itu diksi yang salah dan kita ganti dengan adaptasi kebiasaan baru," kata Yuri dalam launching buku anggota komisi IX Fraksi PAN Saleh Daulay berjudul 'Mengadang Corona: Advokasi Publik di Masa Pandemik' di Gedung DPR, Senayan, Jumat (10/7).


Oleh karena itu, ia mengatakan pemerintah saat ini menggunakan istilah adaptasi kebiasaan baru. Menurut Yuri, penggunaan istilah new normal dianggap masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

"Tidak pernah berhenti gaung new normal di mana-mana dan kemudian dikedepankan bukan new-nya tapi normal-nya," ungkapnya. "Padahal ini sudah kita perbaiki dengan adaptasi kebiasaan baru yang menjadi masalah risk komunikasi."

Yuri pun menyadari masyarakat merasa kebingungan dengan perubahan istilah dalam penanganan virus corona. Namun, sebagai jubir pemerintah ia sadar hal itu sebagai risiko komunikasi yang dihadapi.

"Oleh karena itu, kami dari awal optimis masyarakat bingung," tuturnya. "Kami tidak pernah pesimis, optimis bingungnya, bingung bener, bingung pasti."

Meski begitu, Yuri mengatakan dirinya akan terus berupaya menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. "Ini yang menjadi sulit karena posisi kami jadi jubir harus menjawab apa yang dibutuhkan masyarakat terkiat informasi," tandasnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts