Aksi berlutut ini menjadi salah satu cara protes sekaligus menghormati kematian pria berkulit hitam AS, George Floyd, yang mati di tangan polisi kulit putih Minneapolis.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 22 Juli 2020 - 13:24 WIB
WowKeren - Presiden AS Donald Trump kembali mengkritik para bintang olahraga yang berlutut selama lagu kebangsaan Amerika Serikat dinyanyikan. Melalui akun Twitter pribadinya, Trump mengaku sangat geram pada para pemain liga sepak bola (MLS) dan liga baseball (MLB) yang terus menunjukkan dukungannya kepada gerakan Black Lives Matter (BLM).
Dalam Liga Premier MLS misalnya, pemain, pelatih dan staf di MLS melakukan aksi berlutut sebelum dimulainya setiap pertandingan di MLS is Back di Florida. "Menantikan untuk menyaksikan pertandingan langsung olahraga, tetapi setiap kali saya menyaksikan seorang pemain berlutut selama lagu kebangsaan dinyanyikan, sebuah tanda rasa tidak hormat yang besar untuk negara dan bendera kita, pertandingan sudah berakhir bagi saya!" tulis Trump dalam akun Twitternya.
Ini bukanlah pertama kalinya Trump menunjukkan rasa geramnya. Presiden 74 tahun tersebut sebelumnya pernah mengancam akan berhenti menonton pertandingan olahraga AS jika para atlet masih berlutut. Kendati demikian, seruan Trump seakan sama sekali tak dipedulikan.
Misalnya saja awal bulan ini, pesepak bola legendaris Thierry Henry mengirim pesan dukungan yang kuat untuk gerakan BLM dengan berlutut selama delapan menit dan 46 detik. Jumlah waktu itu sama saat petugas kepolisian Minneapolis Derek Chauvin menaruh lututnya di leher seorang warga kulit hitam, George Floyd.
Bahkan Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (USSF) memutuskan untuk mencabut ketentuan para pemain diharuskan berdiri tegak selama lagu kebangsaan dinyanyikan sebelum pertandingan. USSF mengakui bahwa ketentuan itu adalah salah dan mengurangi esensi dan pesan penting dari gerakan anti-rasisme Black Lives Matter.
Aksi berlutut ini menjadi salah satu cara protes sekaligus menghormati kematian pria berkulit hitam AS, George Floyd, yang mati di tangan polisi kulit putih Minneapolis. Cara protes ini digunakan karena posisi berlutut tersebut mirip dengan tindakan polisi Derek Chauvin menahan George Floyd yang mengakibatkan tak bisa bernapas hingga meninggal dunia.
Namun, sebenarnya larangan berlutut selama lagu kebangsaan awalnya diberlakukan setelah para pesepak bola wanita AS Megan Rapinoe berlutut selama lagu nasionalnya dinyanyikan untuk mendukung mantan gelandang NFL Colin Kaepernick pada 2016.
Jauh sebelum George Floyd, aksi protes berlutut itu bermula dari atlet NFL Colin Kaepernick, yang menginginkan keadilan bagi kaum minoritas di AS, khususnya orang berkulit hitam dengan cara berlutut ketika lagu kebangsaan AS disenandungkan.
Kaepernick bertujuan untuk membuat kesadaran bahwa kekerasan struktural terhadap kaum minoritas di Negeri Paman Sam itu benar adanya. Aksi berlutut terbaru mendapatkan respons keras dari Trump, sambil mengatakan itu tidak menghormati bendera Amerika dan negara.
(wk/luth)