Rapid Test Antigen Disebut Lebih Akurat, Begini Respon LIPI
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto membenarkan jika akurasi rapid test antigen bisa mendekati RT-PCR dalam mendeteksi virus corona.

WowKeren - Dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Erlina Burhan menyatakan bahwa rapid test antigen lebih akurat dibandingkan rapid test antibodi untuk deteksi virus corona (COVID-19).

"Swab antigen atau rapid test antigen ini diproyeksikan untuk gantikan rapid test antibodi karena antigen ini memiliki akurasi lebih baik dibandingkan rapid test antibodi," ujar Erlina. "Rapid antigen ini sama cepatnya dengan sudah ada hasil."

Baik rapid test antigen dan antibodi sama-sama menghasilkan hasil yang cepat dalam waktu kurang lebih 30 menit. Namun, akurasi rapid test antibodi kurang akurat karena bukan mendeteksi virus, melainkan mendeteksi antibodi tubuh terhadap penyakit COVID-19.

Merespon klaim tersebut, Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto membenarkan akurasi rapid test antigen bisa mendekati reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) dalam mendeteksi virus corona. Hal ini dapat dilakukan dengan cara dioptimasi.

"Akurasi rapid tes antigen lebih rendah daripada RT-PCR," kata Wien, Senin (10/8). "Namun apabila dioptimasi, akurasinya atau sensitivitasnya bisa mendekati RT-PCR."


Menurut Wien, jumlah target uji rapid test antigen, yakni protein virus hanyalah apa yang terdapat dalam sampel. Sedangkan RT-PCR ada tahap amplifikasi, perbanyakan jumlah target yang diuji dalam hal ini cDNA melalui tahap PCR.

Lebih lanjut, ia menjelaskan jika rapid test antigen dapat mengidentifikasi ada tidaknya komponen virus, protein virus. Misalnya, protein spike dengan menggunakan minimal dua antibodi yang masing-masing mampu secara spesifik mengikat protein target tersebut pada bagian epitop yang berbeda. "Salah satu antibodi dapat diletakkan di garis deteksi, antibodi yang lain diberi penanda, misalnya nanopartikel emas," ujarnya.

Ia juga menyampaikan rapid test antigen bekerja dengan menggunakan metode swab untuk mengambil protein target dari virus. Oleh karena itu, protein tersebut akan diikat oleh antibodi di garis deteksi dan pada saat yang sama akan berikatan dengan antibodi yang membawa penanda. "Prinsip kerjanya sama dengan tes deteksi kehamilan yang mendeteksi protein hormon human chorionic gonadotropin (hCG)," imbuhnya.

Namun, ia juga mengingatkan jika rapid test antigen hanya dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi SARS-CoV-2 yang sedang berlangsung, sama seperti RT-PCR. Rapid test antigen mendeteksi protein virus dan RT-PCR mendeteksi RNA virus.

Sedangkan rapid test antibodi digunakan untuk mendeteksi infeksi yang sudah pernah berlangsung. "Rapid test antigen, apabila sensitivitasnya tinggi lebih sesuai digunakan sebagai alternatif dari RT-PCR, terutama ketika diperlukan hasil yang cepat kurang lebih 30 menit," ujarnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts