Heboh Pelajaran Sejarah Mau Dihapus, KPAI Justru Beri Saran Ini
Nasional

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan pendapatnya terkait wacana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bakal menghapus pelajaran sejarah.

WowKeren - Masyarakat dihebohkan dengan wacana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bakal menghapus mata pelajaran sejarah. Tentunya hal menuai kritikan dari sejumlah pihak.

Menanggapi persoalan ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Kemendikbud untuk tetap mewajibkan mata pelajaran sejarah namun dengan perbaikan. Sebab, kurikulum saat ini terlalu Jawa sentris.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menilai dalam kurikulum 2013 yang dipakai dalam mata pelajaran sejarah saat ini terlalu Jawa Sentris yang kurang memberikan pengetahuan sejarah daerah lain di Indonesia. "Sehingga anak Papua, anak Aceh, Anak Kalimantan, Anak Sulawesi, Anak Sumatera, dll belajarnya sejarah Jawa, padahal daerahnya juga memiliki sejarah yang layak dipelajari anak bangsa ini," katanya, Senin (21/9).

Kurikulum sejarah saat ini juga dinilai Retno terlalu didominasi oleh sejarah perang dan kekerasan mulai dari Perang Bubat, Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Jawa, Perebutan tahta Singosari Ken Arok, dan sebagainya. "Barangkali ini perlu diperbaiki agar generasi muda tidak salah menafsir seolah-olah sejarah bangsa kita penuh kekerasan sehingga nantinya dicontoh oleh generasi berikutnya, dikhawatirkan generasi mudanya akan menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukan dengan dialog," jelasnya.


Retno juga meminta kurikulum sejarah yang baru nanti agar tidak terlalu terpaku pada hafalan semata yang kerap dikeluhkan siswa sebagai mata pelajaran yang membosankan. "Bagaimananya dari peristiwa sejarah itu jarang digali dan didalmi melalui dialog. Kalau hafalan, cenderung mudah dilupakan dan tidak dipahami makna suatu peristiwa sejarah," pungkasnya.

Sementara itu, Mendikbud Nadiem Makarim diketahui baru-baru ini membantah adanya wacana kontroversial tersebut. Menurut Nadiem, sejarah merupakan tulang punggung dan identitas nasional yang tidak bisa dihilangkan.

Nadiem sendiri berkomitmen akan tetap menghadirkan pelajaran sejarah pada sistem pendidikan. Apalagi karena Nadiem sendiri berasal dari keluarga yang menjadi tokoh perjuangan di masa kemerdekaan Indonesia.

"Kakek saya adalah salah satu tokoh perjuangan dalam kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Ayah dan Ibu saya aktivis nasional untuk membela hak asasi rakyat Indonesia dan berjuang melawan korupsi," ujar Nadiem.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts