Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 mengklaim tidak ada pasien virus corona yang meninggal karena gejala ringan sejak pandemi merebak di Indonesia pada Maret lalu.
- Ruth Meliana
- Kamis, 22 Oktober 2020 - 19:15 WIB
WowKeren - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan seputar penyebaran virus corona di Indonesia. Satgas menyatakan belum pernah atau nol kasus ada pasien virus corona dengan gejala ringan di Indonesia yang meninggal dunia.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo. Ia mengatakan temuan tersebut menjadi bukti jika kasus kesembuhan dari pasien virus corona dengan gejala ringan di Indonesia mencapai 100 persen.
“Kita punya pengalaman juga,” kata Doni dalam bincang ringan yang disiarkan di kanal YouTube BNPB, Kamis (22/10). “Pasien dengan gejala ringan angka kesembuhan mencapai 100 persen dan nol kematian.”
Meski demikian, Doni tidak merinci jangka waktu kesembuhan pasien dengan gejala ringan yang diklaimnya mencapai 100 persen. Ia hanya membandingkan angka kematian dari pasien COVID-19 dengan gejala sedang sedang, berat, dan kritis.
Berdasarkan laporan pihaknya, angka kematian pasien virus corona dengan gejala sedang mencapai 2,6 persen dan gejala berat mencapai 6-7 persen. Sedangkan pasien COVID-19 dengan gejala kritis angka kematiannya mencapai 67 persen.
Doni juga turut membeberkan fasilitas laboratorium pemeriksaan virus corona di Indonesia yang sudah mulai berkembang. Hal ini dibuktikan dengan jumlah laboratorium COVID-19 yang tadinya hanya satu di Balitbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sekarang menjadi 377 laboratorium seluruh Indonesia.
Fasilitas laboratorium terus bertambah akibat banyaknya kasus virus corona di Indonesia yang telah menyebar di 34 provinsi. “Secara umum jumlah laboratorium ini memadai, namun jumlah petugas labnya yang masih terbatas,” papar Doni.
Saat ini, pemeriksaan sampel virus corona di Indonesia sudah baik meskipun masih berada di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Seperti yang diketahui, WHO menetapkan standar pemeriksaan 1 orang tiap 1.000 penduduk per pekan.
”Sementara kalau pemeriksaan spesimen hari rata-rata itu sudah melampaui 270 ribu spesimen,” jelas Doni. “Namun ada kalanya satu orang itu sampelnya lebih dari satu, sehingga kemampuan kita rata-rata sekarang ini sekitar 33 ribu orang per hari, artinya ini peningkatan luar biasa.”
(wk/lian)