Antusiasme Masyarakat RI Tinggi, Jumlah Pendaftar Relawan Uji Klinis Vaksin Corona Membludak
Nasional
Vaksin COVID-19

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Universitas Padjadjaran, Profesor Dr. Kusnandi Rusmil, menjelaskan bahwa tim uji klinis vaksin Sinovac-Bio Farma tersebut membutuhkan 1.620 orang relawan.

WowKeren - Antusiasme masyarakat Indonesia untuk berkontribusi menjadi relawan uji klinis vaksin virus corona (COVID- 19) tampaknya sangat besar. Hal ini tampak dari membludaknya jumlah pendaftar relawan uji klinis vaksin Sinovac oleh Bio Farma yang dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 dari Universitas Padjadjaran, Profesor Dr. Kusnandi Rusmil, menjelaskan bahwa tim uji klinis vaksin corona Sinovac yang bekerjasama dengan Bio Farma tersebut membutuhkan 1.620 orang relawan. Namun relawan yang mendaftar mencapai 2.200 orang.

"Meski begitu, tidak semua pendaftar langsung bisa menjadi relawan," ungkap Kusnandi dilansir Kontan.co.id pada Jumat (23/10). "Ada protokol ketat yang diterapkan untuk menyaring peserta yang memenuhi persyaratan."

Lebih lanjut, Kusnandi menjelaskan bahwa calon vaksin corona akan disuntikkan kepada orang-orang sehat berusia 18-59 tahun. Para relawan juga akan dipastikan negatif COVID-19.


"Kita pemeriksaan dulu, rapid test dan swab test, kemudian dia negatif, tiga hari kemudian dia datang," jelas Kusnandi. "Kita berikan imunisasi, sebelumnya kita ambil darahnya. Empat belas hari kemudian disuntik lagi yang kedua. Kemudian tiga bulan kemudian diambil darah (lagi), enam bulan kemudian diambil darah."

Dalam rentang waktu enam bulan tersebut, seluruh relawan yang berjumlah 1.620 orang tersebut akan diperiksa kesehatannya. Selain itu, reaksi tubuh terhadap vaksin yang disuntikkan juga akan diperiksa.

Sementara itu, tim peneliti dari Universitas Padjadjaran juga akan memantau kualitas vaksin yang dikembangkan oleh Bio Farma dalam periode yang berbeda. "Kita juga melihat batch consistency. Kita melihat beberapa vaksin yang dibikin Bio Farma itu pada bulan-bulan yang berlainan. Sehingga kita lihat apakah konsisten tidak hasilnya," tutur Kusnandi.

Hasil uji klinis vaksin tersebut akan menjadi dasar bagi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA). Dengan EUA tersebut, vaksin corona yang diedarkan ke masyarakat telah dianggap layak.

"Oleh karena itu, kami sangat berharap bahwa data uji klinik fase ketiga ini dapat memberikan pembuktian bahwa vaksin tersebut berkhasiat dan aman," ungkap Direktur Registrasi Obat BPOM, Dr. Lucia Rizka Andalusia. "Kami akan melihat tuh datanya, keamanannya bagaimana, persentase kejadian efek samping dan sebagainya seberapa besar. Kemudian paling penting juga adalah khasiatnya bagaimana."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts