Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menganalisis dampak ke Indonesia apabila Donald Trump atau Joe Biden yang memenangkan Pilpres AS.
- Nidya Putri
- Rabu, 04 November 2020 - 11:18 WIB
WowKeren - Warga Amerika Serikat saat ini tengah memasuki masa pemungutan suara Pemilihan Presiden 2020. Lantas, apakah hasil pemenang Pilpres AS 2020 bisa memberikan dampak ke Indonesia?
Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mengungkapkan analisisnya terkait hasil apabila Donald Trump atau Joe Biden yang memenangkan Pilpres AS dan hubungannya dengan RI. Ia mengatakan Indonesia harus menjaga hubungan baik dengan siapapun presiden AS terpilih.
"Indonesia harus bisa bekerja sama dengan siapapun presiden terpilih di AS karena ini merupakan kedaulatan AS dan hak WN AS," kata Hikmahanto, Selasa (3/11).
Apabila Pilpres AS dimenangkan oleh Joe Biden, maka Indonesia perlu beradaptasi kembali. Sebab, Biden mengusung isu hak asasi manusia (HAM).
"Nantinya kita tentu harus beradaptasi bila Biden yang terpilih, mengingat dia dari Partai Demokrat yang sangat mengusung HAM," jelasnya. "Sementara kalau Trump tentu kita sudah memahami kerja Trump."
Diketahui hubungan bilateral Indonesia dan AS sedang dekat. Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto sempat mengunjungi AS pada pertengahan Oktober lalu. Kemudian, Menlu AS Mike Pompeo pun berkunjung ke Indonesia, dimana dalam pertemuan tersebut membahas sejumlah rencana kerja sama.
Hikmahanto menilai kerja sama bilateral akan terus berjalan dan tak terikat langsung dengan hasil Pilpres AS. "Terkait janji-janji Pompeo saya rasa itu akan tetap dijalankan oleh AS mengingat kebijakan itu datangnya dari para birokrat AS. Janji tersebut bukan merupakan politisi yang menjabat presiden, wapres atau menteri," paparnya.
AS sendiri memiliki kepentingan atas hubungan bilateral dengan Indonesia demi melawan pengaruh Tiongkok di Asia. "Para birokrat yang menganalisa bahayanya Tiongkok bila terus memberi pengaruh ke negara-negara Asia termasuk Indonesia," imbuhnya.
Sementara itu, di AS sendiri dikabarkan hampir 100 juta pemilih telah memberikan suaranya lebih awal, indikasi bahwa pemilu kali ini akan memiliki partisipasi terbanyak dalam satu abad.
(wk/nidy)