Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, peritel telah meminta bantuan aparat. Hal ini mengingat barang-barang tersebut adalah yang dibutuhkan konsumen.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 05 November 2020 - 10:39 WIB
WowKeren - Pengusaha ritel meminta polisi untuk turun tangan menangani ormas-ormas yang mulai melakukan sweeping produk Prancis di minimarket. Aksi semacam ini dinilai cukup meresahkan dan merugikan pihak lainnya.
"Kita juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin ada," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin dilansir Detik, Kamis (5/11). "Hal yang seperti saya sampaikan tadi ada video yang beredar (ormas) melakukan sweeping atau apa namanya di toko-toko anggota kita."
Untuk saat ini sebagai jalan tengah, peritel melakukan penarikan terhadap produk-produk yang bertuliskan "Made in Prancis". Produk yang memiliki label ini merupakan yang benar-benar diproduksi di negara itu.
Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang tidak puas sehingga berusaha mengaitkan merek tertentu sebagai milik Prancis. Sedangkan barang tersebut bisa saja justru diproduksi di Indonesia. "Kan bagi orang-orang tertentu nggak puas, di situ dia mengaitkannya dengan kegiatan di lapangannya melakukan sweeping," ujarnya melanjutkan.
Solihin mengatakan jika pihaknya akan tetap menjual produk-produk lainnya, selama produk yang dimaksud tidak dibuat di Prancis. Sehingga untuk produk yang tidak terdapat label made in Prancis maka akan tetap dijual.
"Cuma barangnya apa sih? kalau saya yang dianggap barang itu menjadi barang yang harus ditarik itu ada tulisannya made in (Prancis) gitu lho," ungkapnya. "Kalau nggak ada ya berarti bukan barang sana dong."
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, maka pihaknya telah meminta bantuan aparat. Hal ini mengingat barang-barang tersebut adalah yang dibutuhkan konsumen. "Untuk itu kita minta bantuan oleh aparat untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Kan itu (yang dijual) barang kebutuhan konsumen juga," kata Solihin.
Ia kemudian menyebutkan salah satu merek yang salah menjadi sasaran. "Di situ (yang beredar) ada video SGM dan sebagainya dikait-kaitkan (dengan Prancis). Barangnya dibuatnya di sana kok di Jawa Tengah," tegasnya lagi.
(wk/zodi)