Beberapa pengamat memproyeksikan dampak dari aksi boikot produk Prancis yang terus berlanjut pada ekonomi Indonesia. Pasalnya, ada banyak perusahaan afiliasi Prancis di Tanah Air.
- Nidya Putri
- Senin, 09 November 2020 - 10:33 WIB
WowKeren - Pernyataan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina Islam membuat sejumlah negara melakukan aksi boikot pada produk negara tersebut. Bahkan di Indonesia sendiri seruan untuk memboikot produk Prancis berhembus kencang.
Padahal ada begitu banyak perusahaan afiliasi Prancis yang beroperasi di Indonesia. Begitu banyak pula pekerja Indonesia yang bergantung di perusahaan-perusahaan tersebut.
Lantas, apa dampaknya pada ekonomi dalam negeri apabila aksi ini terus berlanjut?
Beberapa pengamat meyakini aksi boikot produk Prancis di Indonesia tidak akan berdampak terlalu signifikan. Menurut Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, aksi boikot yang besar pengaruhnya biasanya adalah aksi boikot yang mendapat dukungan oleh institusi besar seperti negara atau swasta.
"Sebagai contoh misalnya aksi boikot yang dilakukan Amerika Serikat terhadap beberapa negara sebelumnya seperti Afrika Selatan ataupun Iran berhasil mengucilkan perekonomian negara tersebut," ujar Yusuf dilansir detikcom, Senin (9/11). "Sementara dukungan bisnis besar seperti disney, Ford, Coca-Cola terhadap Facebook (FB) pada 2016 yang berdampak pada brand FB pada saat itu."
Dalam aksi boikot produk Prancis di Indonesia, tidak ada dukungan serupa dari institusi besar seperti negara dan swasta tadi. Demikian pula, aksi ini hanya dijalankan oleh sebagian lapisan masyarakat Indonesia saja sehingga diyakini tidak bakal membawa pengaruh signifikan.
"Betul bahwa Indonesia menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan Presiden Perancis, namun Indonesia tidak pernah menyampaikan untuk melakukan pemboikotan terhadap produk asal Prancis (secara resmi)," jelasnya. "Sementara seruan boikot, juga hanya terjadi di sebagian elemen masyarakat, artinya tidak secara luas dilakukan oleh masyarakat Indonesia sehingga dampaknya ke perusahaan afiliasi Prancis di Indonesia juga tidak akan begitu signifikan."
Yusuf kemdian menjelaskan jika hubungan dagang RI-Prancis juga relatif kecil dibanding dengan negara lain yakni hanya sekitar 1% saja. "Artinya ini kemudian tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja dagang kedua negara," imbuhnya.
Demikian pula dengan hubungan bilateral di bidang lainnya, Yusuf meyakini akan tetap terjadi dialog yang baik di antara keduanya. "Adapun untuk hubungan bilateral, saya kira ini masih perlu menunggu dinamika kondisi politik di Prancis sendiri. Namun, saya kira Indonesia masih akan melakukan pendekatan dialog dengan Prancis untuk isu ini. Jadi tidak ada konfrontasi terbuka, menurut saya," sambungnya.
(wk/nidy)