Sekretaris Jenderal Komnas Pendidikan Andreas Tambah bahkan mengakui adanya penurunan mutu pendidikan sejak penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di kala pandemi.
- Nidya Putri
- Senin, 16 November 2020 - 12:00 WIB
WowKeren - Selama pandemi COVID-19 berlangsung di Indonesia, sekolah-sekolah pun ditutup. Para siswa pun beralih melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang mengandalkan internet.
Namun, banyak kendala yang dijumpai saat melaksanakan PJJ. Sekretaris Jenderal Komnas Pendidikan Andreas Tambah bahkan mengakui adanya penurunan mutu pendidikan sejak penerapan PJJ.
Andreas mengatakan dalam PJJ, guru hanya memberikan tugas tertentu dan materi singkat dan peserta didik tidak membaca buku. Peserta didik lebih memilih mencari jawaban soal melalui situs daring.
Pembelajaran cara ini akan menyebabkan tingkat literasi peserta didik semakin rendah. Meski demikian ia tak menyarankan kegiatan tatap muka dilakukan, kecuali kondisi pandemi sudah aman.
“Jika tahun 2021 harus diterapkan, pikir panjang dahulu. Jangan terburu-buru karena kita enggak tahu pandemi sampai kapan," ujarnya dilansir Republika, Senin (16/11). "Ini guna mencegah timbulnya klaster-klaster baru khususnya di kalangan guru dan anak. Lebih baik bersabar melakukan kegiatan tatap muka."
Ia mengatakan jika pembelajaran tatap muka harus mempertimbangkan angka COVID-19 yang meliputi tingkat kesembuhan dan penyebarannya, termasuk apakah kasus positifnya menurun, datar atau meningkat. “Khususnya untuk DKI Jakarta memang masuk zona merah ini sangat riskan risikonya. Kemarin saya bicara dengan beberapa komite sekolah DKI. Mereka merasa keberatan karena kondisi saat ini belum aman,” jelasnya.
Sementara di daerah, perlu dilakukan pengambilan sampel di masyarakat. Namun, ia mengatakan, pada beberapa daerah yang semula terlihat aman, justru menunjukkan hasil swab yang mengejutkan, yakni banyak masyarakat terpapar.
Terkait kualitas pendidikan yang dinilai kian menurun, menurutnya para guru harus lebih giat mendorong muridnya untuk membudayakan membaca. “Kondisi pandemi memang sebuah dilema yang harus dijalankan. PJJ dampaknya cukup berat. Namun, kesehatan lebih penting. Masalah mutu menurun, jangan mengandalkan kegiatan daring. Dorong peserta didik untuk giat membaca,” tuturnya.
(wk/nidy)