Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melaporkan setidaknya 100 sirene untuk mendeteksi Tsunami telah rusak. BMKG justru janjikan ganti yang lebih murah. Kenapa?
- Ruth Meliana
- Selasa, 17 November 2020 - 10:04 WIB
WowKeren - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebanyak 100 sirene untuk mendeteksi terjadinya tsunami telah rusak. Sebagai gantinya, BMKG justru berjanji akan mengganti dengan sirene yang jauh lebih murah.
Alasan BMKG akan mengganti sirene yang rusak dengan versi murah karena teknologinya lebih sederhana. Selain itu, sirene yang murah memiliki biaya pemeliharaan yang lebih terjangkau.
”Selama ini salah satu kendala dalam operasional dan pemeliharaan sirene tsunami adalah terkait dengan biayanya yang cukup mahal dan suku cadang yang sudah tidak diproduksi lagi,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati seperti dilansir dari CNN, Senin (16/11).
Dwikorita menjelaskan selama ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama telah membangun sirene tsunami dengan biaya yang cukup mahal. Mereka juga menghibahkannya ke pemerintah daerah untuk dioperasikan dan dipelihara.
Sayang, data dari BNPB menunjukkan jumlah sirene yang masih berfungsi tinggal 58 buah saja. Padahal, BNPB telah memasang 158 sirene yang cukup mahal dari tahun 2013 hingga 2014. Sebanyak 100 sirene yang sudah tidak bisa beroperasi tersebut disebabkan karena keterbatasan kemampuan pemerintah daerah dalam memeliharanya.
Sementara itu, BMKG telah memasang sirene tsunami sebanyak 52 buah sejak tahun 2008 hingga 2015. Enam diantaranya telah dihibahkan ke Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan sembilan sirene lainnya dihibahkan ke Pemerintah Provinsi Bali.
Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat melaporkan seluruh sirene yang diberikan pemerintah sudah tidak bisa berfungsi lagi. Penyebabnya dikarenakan sirene tersebut tidak terpelihara dengan baik oleh pihaknya.
Dwikorita lantas menjelaskan pihaknya saat ini sedang dalam proses penggantian 19 sirene. Penggantian dilakukan karena usia operasional dan suku cadang sirene tsunami yang dipasang itu sudah tidak lagi tersedia di pasaran hingga pabrikan.
Oleh sebab itu, BMKG akan memasang sirene versi sederhana yang akan segera melalui tahap uji coba. “Sirene versi sederhana telah berhasil diuji coba di Labuan Bajo pada tanggal 12 November 2020,” pungkas Dwikorita.
(wk/lian)