Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menilai penundaan libur panjang diperlukan karena kasus positif virus corona (COVID-19) di Indonesia terus bertambah.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 17 November 2020 - 12:47 WIB
WowKeren - Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyarankan agar libur panjang Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 ditunda. Usulan tersebut disampaikan demi mencegah munculnya lonjakan kasus virus corona (COVID-19) di Tanah Air.
"Sebaiknya libur panjang (Natal dan Tahun Baru) ditunda saja, sehingga tidak ada keramaian," tutur Dicky dilansir CNN Indonesia pada Selasa (17/11). "Pilkada juga ditunda."
Diketahui, pemerintah merevisi libur nasional dalam rangka percepatan penanganan COVID-19. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, diatur bahwa 24-25 menjadi cuti bersama dan libur Natal 2020, kemudian 28 Desember-31 Desembe menjadi libur pengganti Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah.
Selain itu, tanggal 1-3 Januari 2021 jatuh di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Dengan demikian, total libur akhir tahun mencapai 11 hari.
Dicky menilai penundaan libur panjang diperlukan karena kasus positif COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Indonesia diketahui mencatat rekor 5.444 kasus positif dalam sehari pada Jumat (13/11) pekan lalu. Dicky juga menilai bahwa Indonesia tidak memiliki dasar untuk melonggarkan protokol kesehatan hingga memperbolehkan aktivitas bepergian.
"Tidak ada dasar Indonesia melakukan pelonggaran keramaian itu, indikatornya tidak terpenuhi, kalau WHO kan ada tiga, kasus harian menurun selama dua minggu. Nah itu tidak ada di Indonesia," papar Dicky. "Kemudian tes positivity rate di bawah 5 persen belum terpenuhi, angka kematian 0 masih jauh. Jadi tidak ada alasan kuat untuk pelonggaran."
Sebagai informasi, angka kasus COVID- 19 di Tanah Air menunjukkan tren peningkatan dalam 2 pekan terakhir. Kemudian positivity rate Indonesia juga masih tinggi, yakni 14 persen per 8 November 2020 lalu. Sedangkan angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia juga masih fluktuatif dalam 2 pekan terakhir.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (P2P Kemenkes) Budi Hidayat enggan memberikan komentar mengenai penundaan libur panjang. Budi menyatakan bahwa pihaknya berfokus dalam mempersiapkan sarana dan prasarana kesehatan untuk menunjang pemeriksaan dan pengetesan COVID-19.
"Kalau libur panjang sama kayak kemarin, kita mempersiapkan, memberikan edukasi, dan mengimbau masyarakat menerapkan protokol kesehatan, menyiapkan sarana- prasarana kesehatan seperti rumah sakit," tutur Budi. "Sehingga cukup jika ada lonjakan, lab tetap buka walaupun libur sehingga pemeriksaan spesimen tetap berjalan."
(wk/Bert)