Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa pihaknya masih terbuka dan mempersilakan pihak yang mau memberikan kesaksian atau barang bukti baru.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 15 Desember 2020 - 16:30 WIB
WowKeren - Bareskrim Polri telah menggelar rekonstruksi penembakan yang menewaskan enam orang laskar FPI pada Minggu (13/12) malam hingga Senin (14/12) dini hari kemarin. Namun demikian, Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa rekonstruksi kasus tersebut belum final.
Menurut Sigit, pihaknya masih terbuka dan mempersilakan pihak yang mau memberikan kesaksian atau barang bukti baru. Sigit pun membuka kemungkinan bahwa rekonstruksi lanjutan akan kembali digelar ke depannya.
"Rekonstruksi hari ini perlu saya jelaskan bahwa rekonstruksi yang kita lakukan tadi malam itu adalah bagian dari proses penyidikan yang dilakukan Bareskrim Polri. Artinya rekonstruksi yang dilakukan belum merupakan hasil final," ungkap Sigit di Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada Selasa (15/12) hari ini. "Apabila ada temuan baru terkait dengan tambahan keterangan, informasi dan saksi, dan bukti lain tidak menutup kemungkinan bisa dilanjutkan dengan rekonstruksi selanjutnya."
Lebih lanjut, Sigit juga memastikan bahwa rekonstruksi kasus ini dilakukan secara transparan dan objektif. Pihak kepolisian disebut melibatkan media dan pengawas dari eksternal, seperti Komnas HAM hingga Amnesty Internasional.
"Yang perlu saya tekankan bahwa rekonstruksi yang tadi malam kita lakukan kami selalu berusaha profesional transparan dan objektif," papar Sigit. "Dengan selalu melibatkan rekan media rekan pengawas eksternal kami mengundang Komnas HAM, Amnesty International, Kontras, Imparsial dan juga Kompolnas."
Sebagai informasi, juru bicara FPI, Munarman, sempat menyoroti keterangan polisi yang berubah-ubah terkait insiden bentrok yang menewaskan enam laskar pengawal Habib Rizieq beberapa waktu lalu. Munarman menanyakan sejumlah kejanggalan yang ia temukan, termasuk jumlah polisi yang mengawal empat laskar FPI dalam perjalanan menuju Polda Metro Jaya.
"Jadi ini ceritanya berubah pertanyaan yang patut juga diajukan, berapa orang itu di mobil? Masa empat-empatnya cuma dikawal sama dua orang petugas?" kata Munarman. "Nah, ini makin aneh dan dihabisi empat-empatnya di dalam mobil dan ini makin jelas."
(wk/Bert)