Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Sosial Muhadjir Effendy menjelaskan bahwa Kemensos masih memikirkan cara yang tepat supaya bansos itu digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan pokok.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 15 Desember 2020 - 17:11 WIB
WowKeren - Penyaluran bantuan sosial (bansos) untuk wilayah Jabodetabek akan diubah dari sembaku menjadi tunai mulai tahun 2021 mendatang. Hal ini diungkapkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Sosial Muhadjir Effendy.
"Bansos Jabodetabek skema yang kita gunakan ialah BST (bantuan sosial tunai)," ungkap Muhadjir di Gedung Kementerian Sosial, dilansir Antara, Senin (14/12). "Tapi teknisnya masih harus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta."
Lebih lanjut, Muhadjir menjelaskan bahwa penyaluran bansos tunai tersebut akan melibatkan PT Pos. Pasalnya, tidak semua penerima bansos memiliki akun bank.
Sebagai informasi, bansos sembako untuk wilayah Jabodetabek sebelumnya diduga dikorupsi. Salah satu tersangka kasus dugaan korupsi bansos ini adalah mantan Mensos Juliari Batubara.
Adapun anggaran bansos sembako Jabodetabek tahun 2020 mencapai Rp 6,8 triliun dan berasal dari alokasi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang diterima oleh Kementerian Sosial. Namun anggaran pada tahun depan, saat bansos tunai disalurkan di Jabodetabek, masih belum diketahui besarannya.
Menurut Muhadjir, penyaluran bansos tunai ini harus memperhatikan penerima agar benar-benar tepat sasaran. Muhadjir sendiir mengakui bahwa salah satu kelemahan dari BST adalah pemerintah tidak bisa mengontrol penggunaan bansos setelah diberikan.
Bantuan tunai tersebut dikhawatirkan justru terpakai untuk membeli rokok dan sebagainya. Muhadjir pun menjelaskan bahwa Kemensos masih memikirkan cara yang tepat supaya bansos itu digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan pokok. "Berdasarkan survei, uang itu digunakan untuk beli kebutuhan pokok dan nomor tiga untuk beli rokok," ungkap Muhadjir.
Di sisi lain, kasus dugaan korupsi Mensos Juliari membuat sejumlah pihak mengkritik bansos dalam bentuk non-tunai atau sembako. Pengamat politik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menyebutkan bahwa sembako berkualitas buruk menunjukkan tanda bahwa ada dana yang disunat sehingga produk yang dibagikan harganya lebih murah dari yang semestinya. Oleh sebab itu, ia juga mengusulkan agar bansos diberikan dalam bentuk tunai.
"Sebenarnya sudah ada indikasi itu (penurunan kualitas sembako). Cuma, kan, masalahnya baru ini yang terungkap. Bagaimana yang di daerah, yang menurut saya lebih parah lagi?" ujar Trubus dilansir Tirto. "Sebaiknya alihkan ke tunai."
(wk/Bert)