Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof dr Suhardjo, SU, Sp.M(K), menyampaikan adanya risiko COVID-19 dapat menular lewat air mata.
- Nidya Putri
- Kamis, 17 Desember 2020 - 13:30 WIB
WowKeren - Virus corona SARS-Cov-2 penyebab COVID-19 dengan mudah bisa menginfeksi dari satu individu ke individu lain. Biasanya virus dapat menyebar melalui percikan air liur atau droplet baik dari hidung maupun mulut.
Namun, baru-baru ini disebutkan jika air mata bisa menjadi media penularan virus tersebut. Hal ini menindaklanjuti temuan kasus mata merah atau konjungtivis pada individu yang terinfeksi COVID-19.
"Air mata bisa jadi media penularan, tapi kemungkinannya kecil karena di situ tidak ada reseptor yang cocok untuk virus COVID-19," ujar Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Prof dr Suhardjo, SU, Sp.M(K) pada Rabu (16/12).
Ia menjelaskan bahwa selama ini penularan virus Corona paling sering terjadi melalui mulut atau hidung. Sebab di area tersebut terdapat jaringan mukosa yang dapat menjadi pintu masuk bagi virus.
Seperti diketahui dalam rongga mulut maupun hidung memiliki reseptor ACE-2 dan CD-147 serta enzim TMPRSS2 sebagai tempat menempelnya virus COVID-19. "Reseptor itu ibarat rumah, kalau di ronga mulut dan saluran hidung ada reseptor yang cocok untuk COVID-19," katanya.
Sementara dari studi literatur yang telah diterbitkan dalam Journal of Medical Sciences pada Juli 2020 lalu diketahui jika hanya sedikit pasien COVID-19 yang mengalami mata merah/konjungtivis. Dari studi tersebut diketahui jika hanya sebanyak 0,8 persen pasien COVID-19 yang menunjukkan gejala mata merah. "Jadi hanya 8 di antara 1.000 orang ada gejala mata merah pada pasien COVID-19 dan ini lebih rendah angkanya daripada gejala diare sebanyak 3,8 persen," tuturnya.
Untuk mencegah virus Corona masuk melalui mata, Suhardjo mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu sering menyentuh atau mengusap mata dengan tangan. Perilaku tersebut selain mencegah infeksi virus Corona juga mencegah terjadinya iritasi serta infeksi virus maupun bakteri lainnya pada mata.
Sebelumnya disebutkan jika gejala-gejala tak lazim terjadi pada para pasien COVID-19, seperti mata merah, cegukan, menceret, ruam kulit, hingga gejala seperti stroke. Namun, terabaikan oleh tim medis.
"Memang waktu awal-awal (munculnya kasus COVID-19) kita fokus pada keluhan respirasi," kata Dokter Paru-Paru RS Persahabatan, dr Andika Chandra Putra, Sp.P., Ph.D., di Jakarta, Senin (5/10). "Tapi kemudian setelah hampir 6 bulan ini ada pasien-pasien yang mengeluhkan keluhan-keluhan nonrespirasi."
Terkait dengan "terabaikannya" gejala-gejala itu, imbuh Andika, lantaran tim medis lebih fokus pada gejala respirasi. Sebab seperti diketahui virus Corona bisa menyebabkan gejala tergantung di mana virus itu menginfeksi tubuh, namun pada awalnya COVID-19 dikenal sebagai penyakit infeksi saluran pernapasan.
(wk/nidy)