Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan peringatan kepada pemerintah soal ancaman datangnya mutasi virus corona baru dari Inggris. Ia beri saran ini.
- Ruth Meliana
- Senin, 21 Desember 2020 - 14:38 WIB
WowKeren - Mantan Presiden Republik Indonesia ke-7 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut menyoroti hebohnya mutasi baru virus corona dari Inggris. Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini lantas memberikan peringatan terkait ancaman penyebaran varian strain mutasi COVID-19 yang disebut menyebar 70 persen lebih cepat itu.
Peringatan ini diberikan SBY terhadap Pemerintah Indonesia. Menurutnya, pemerintah harus segera mengambil tindakan yang cepat tanggap untuk mencegah mutasi COVID-19 jenis baru itu menyebar dan membahayakan nyawa masyarakat Tanah Air.
SBY juga turut membandingkan mutasi COVID-19 baru dari Inggris itu dengan pandemi flu Spanyol pada tahun 1918 silam. Kala itu, penyebaran virus flu Spanyol yang sangat cepat telah menewaskan puluhan juta di dunia. Berkaca dari itu, SBY pun mendesak agar pemerintah tidak meremehkan mutasi virus corona dari Inggris itu.
”Di Inggris muncul strain COVID-19 baru,” kata SBY seperti dikutip dari akun Twitter miliknya, @SBYudhoyono pada Senin (21/12). “Yang lebih mudah dan cepat menyebar.”
”Pandemi Spanish Flu 1918, penyebaran virusnya juga cepat dan mematikan, telan korban jiwa 50 juta lebih,” sambungnya. "Saya berharap pemerintah lakukan langkah yang cepat dan tepat untuk selamatkan kita dari COVID-19 baru ini.”
Sebelumnya, Inggris telah kembali melakukan karantina wilayah (lockdown) selama Natal. Kebijakan ini diterapkan setelah Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock menyebut penyebaran mutasi baru virus corona telah terjadi di luar kendali pada Minggu (20/12).
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson sendiri juga telah memberikan peringatan yang sama di hari sebelumnya, Sabtu (19/12). Imbas kebijakan dan penemuan mutasi baru itu, sejumlah negara di Eropa dan Timur Tengah langsung menerapkan larangan penerbangan dari dan ke Inggris.
Sejumlah negara itu adalah Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Belgia, Austria, Swedia, Swiss, Estonia, Latvia, Lituania, Bulgaria, Rumania, Turki, Iran, Israel, Kuwait, El Salvador, serta Arab Saudi. Mereka menyatakan melakukan pelarangan demi mencegah penyebaran virus yang disebut 70 persen menular lebih cepat itu.
(wk/lian)