SBY Nasehati Trump Yang Tak Legowo: Di Era ‘Post Truth’, Presiden Harus Jujur
Nasional
Pelantikan Presiden AS 2021

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut memberikan nasehat kepada Presiden Amerika Serikat (AS) yang terlihat masih belum menerima kekalahannya dari Joe Biden.

WowKeren - Mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono ikut mengomentari transisi kekuasaan di Amerika Serikat (AS). Ia ikut memberikan nasehat kepada Presiden AS Donald Trump untuk legowo dan menerima kekalahannya dari Joe Biden.

Seperti diketahui, Joe Biden telah memenangkan Pilpres AS dan menjadi presiden terpilih. Biden bersama wakilnya, Kamala Harris dijadwalkan akan menjalani pelantikan pada Rabu (20/1) siang waktu setempat.

Namun, proses pelantikan ini masih dibayang-bayangi dengan masalah keamanan dari massa pendukung Trump yang masih belum menerima kemenangan Biden. Hal ini terlihat dari aksi anarkis massa pendukung Trump yang memicu kericuhan di Capitol Hill beberapa lalu.

SBY pun meminta Trump untuk menjadi seorang pemimpin yang berkata jujur. Apalagi, Trump dinilai sejumlah pihak telah menghasut pendukungnya hingga memicu kerusuhan yang menewaskan sejumlah warga AS.

Tweet SBY Tentang Pilpres AS

Twitter

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini berkaca pada pernyataan-pernyataan Trump yang menyebut Pilpres AS penuh kecurangan. SBY menilai pernyataan seperti itu dari seorang pemimpin dunia dapat berkaibat fatal.


Di era 'post-truth politics', ucapan pemimpin (presiden) harus benar dan jujur,” tulis SBY dalam akun Twitter @SBYudhoyono miliknya, Rabu (20/1). “Kalau tidak, dampaknya sangat besar.”

SBY menjelaskan maksud era post-truth politics adalah politik yang tidak berlandaskan pada fakta. Sebagai contoh adalah kebohongan sistematis yang berulang-ulang kali dilontarkan pemimpin sehingga berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan rakyat pada pemerintah.

Post-truth politics (politik yang tidak berlandaskan pada fakta), termasuk kebohongan yg sistematis & berulang, pada akhirnya akan gagal,” sambungnya. “Pemimpin akan kehilangan ‘trust dari rakyatnya, karena mereka bisa bedakan mana yang benar (faktual) dengan yang bohong (tidak faktual).”

Lebih lanjut SBY seakan mengingatkan Trump untuk menerima kekalahan di Pemilu AS 2020. Penerimaan itu dinilai dapat membuat demokrasi terus berlangsung dengan baik. Ia menyoroti bagaimana transisi kekuasaan antara Trump dan Biden yang berjalan dengan permusuhan dan menegangkan saat ini.

Tiap pemilu ada yang menang, ada yang kalah. Meskipun berat dan menyakitkan, siapapun yang kalah wajib terima kekalahan dan ucapkan selamat kepada yang menang,” pesan SBY. “Itulah tradisi politik dan norma demokrasi yang baik. Sayangnya, sebagai champions of democracy, ini tidak terjadi di AS sekarang.”

Kali ini pergantian kekuasaan yang damai (smooth and peaceful) tak terjadi di AS,” lanjutnya. “Transisi kekuasaan dibarengi luka, kebencian dan permusuhan. Ini petaka bagi AS yang politiknya terbelah (deeply divided). Energi Biden bisa habis untuk satukan AS hadapi tantangan ke depan.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts