Heboh Ledakan Di Buleleng Bali, LAPAN: Karena Asteroid Jatuh
pixabay.com/Ilustrasi
Nasional

Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan penyebab ledakan yang telah menghebohkan warga Buleleng, Bali pada Minggu (24/1) siang kemarin.

WowKeren - Warga Buleleng, Bali sempat dihebohkan dengan suara ledakan keras pada Minggu (24/1) pukul 10.27 WIB kemarin. Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) pun menjelaskan penyebab suara ledakan itu karena ada asteroid jatuh.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaludin mengatakan fenomena suara ledakan di Buleleng itu mirip dengan dentuman yang terjadi di Bone pada 8 Oktober 2009 lalu. Kala itu, warga Bone mendengar suara ledakan yang menyebabkan kaca-kaca di rumah mereka ikut bergetar.

”Pada 8 Oktober 2009 warga Bone mendengar ledakan disertai getaran kaca-kaca rumah mereka,” ujar Thomas seperti dilansir dari Kumparan, Minggu (24/1) malam. “Warga juga melihat jejak asap di langit.”

Dugaan fenomena itu karena jatuhnya meteor besar. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang mengandalkan data infrasound.

”Data infrasound mengindikasikan adanya asteroid jatuh yang diperkirakan berdiameter 10 meter,” jelas Thomas. “Belakangan diketahui juga seismograf BMKG terdekat merekam getaran 1,9 Magnitudo.”


Kejadian serupa diduga seperti yang dialami di Buleleng. Apalagi, warga setempat juga sempat melihat benda bercahaya yang jatuh dari langit menuju laut.

”Bila dibandingkan dengan kejadian di Bone, ada kemiripan,” terang Thomas. “Sehingga diduga ledakan di Buleleng juga disebabkan adanya asteroid besar yang jatuh.”

Sebelumnya, BMKG sendiri telah melaporkan adanya anomali dengan getaran 1,1 Magnitudo yang tercatat di seismograf mereka. Getaran itu memicu gelombang kejut yang terdengar seperti ledakan.

LAPAN menduga asteroid sedikit lebih kecil daripada asteroid yang jatuh di Bone. Asteroid sendiri merupakan benda langit yang ukurannya lebih kecil dari planet tetapi lebih besar dari meteorit.

"Durasinya 20 detik, kalau besarannya kami cek kira-kira skala 1,1 magnitudo," tutur observer PGR BMKG Wilayah III Denpasar, Indira, di kantornya. "Setelah kami cek pada kira-kira pukul 10.27 WITA, memang ada anomali sinyal. Namun sinyal ini bukan seismik gempa bumi karena tak tercatat oleh beberapa sensor di sekitarnya, hanya sensor Singaraja saja."

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts