Trump Kembali Lolos Dari Sidang Pemakzulan, Ini Kata Joe Biden
Dunia

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden buka suara terkait lolosnya Donald Trump dari sidang pemakzulan atas tuduhan menghasut pemberontakan di Gedung Capitol Hill pada 6 Januari lalu.

WowKeren - Senat membebaskan Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam sidang pemakzulan keduanya yang berlangsung Sabtu (13/2) waktu setempat. Trump dimakzulkan atas tuduhan menghasut pemberontakan di Gedung Capitol Hill, pada 6 Januari 2021 lalu.

Keputusan tersebut pun ditanggapi oleh Presiden AS Joe Biden. Menurutnya, keputusan senat ini menjadi pengingat betapa rapuhnya demokrasi.

Untuk itu, setiap warga AS memiliki kewajiban untuk membela kebenaran. "Babak menyedihkan dalam sejarah kita ini mengingatkan kita bahwa demokrasi itu rapuh," kata Biden dalam pernyataan yang dikeluarkan beberapa jam setelah Senat gagal mengumpulkan dua pertiga mayoritas yang dibutuhkan untuk menghukum Trump dilansir dari Reuters, Minggu (14/2).

Presiden AS ke-46 itu mengingatkan ada 57 senator yang memilih untuk menyatakan Trump bersalah. Pemungutan suara bipartisan oleh Dewan Perwakilan Rakyat untuk pemakzulkan kedua Presiden AS itu mencetak rekor.


Pasalnya ada tujuh senator dari Partai Republik turut menyatakan Trump bersalah. Meskipun pemungutan suara terakhir tidak mengarah pada hukuman, dia menilai anggota Senat tidak memperdebatkan substansi dakwaan.

"Bahkan mereka yang menentang hukuman itu, seperti Pemimpin Minoritas Senat (Mitch) McConnell, percaya Donald Trump bersalah karena telah secara memalukan melalaikan tugas, juga bertanggung jawab secara praktis dan moral untuk memprovokasi kekerasan yang terjadi di Capitol," kata Biden.

Peristiwa ini membuat Biden memikirkan Polisi Capitol Brian Sicknick. Petugas itu terbunuh selama pengepungan Gedung Capitol pada 6 Januari. Termasuk juga orang lain yang dengan berani berjaga, dan mereka yang kehilangan nyawa.

Biden kemudian memberi pujian kepada mereka yang telah berani dan berupaya dalam melindungi integritas demokrasi AS. Diantaranya termasuk Demokrat dan Republik, pejabat dan hakim pemilu, perwakilan terpilih, dan petugas pemungutan suara.

"Bab menyedihkan dalam sejarah kita ini mengingatkan kita bahwa demokrasi itu rapuh. Bahwa demokrasi harus selalu dipertahankan. Bahwa kita harus selalu waspada. Bahwa kekerasan dan ekstremisme tidak memiliki tempat di Amerika," tuturnya. "Dan bahwa kita masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai Amerika, dan terutama sebagai pemimpin, untuk membela kebenaran dan mengalahkan kebohongan."

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait