Tak Hanya Satu Batch Saja, Anggota DPR Minta Distribusi Seluruh Vaksin AstraZeneca Juga Disetop
Pixabay/Spencer Davis
Nasional
Vaksin COVID-19

Sebelumnya, pemerintah menghentikan sementara distribusi Vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 yang jumlahnya mencapai 448.480 dosis sebagai bentuk kehati-hatian untuk memastikan keamanan vaksin.

WowKeren - Pemerintah Indonesia menghentikan distribusi Vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 untuk sementara demi melakukan uji toksisitas dan sterilitas oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebagai informasi, jumlah Vaksin AstraZeneca yang termasuk dalam batch tersebut mencapai 448.480 dosis.

Namun demikian, anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PAN, Saleh P Daulay, meminta agar seluruh Vaksin AstraZeneca dihentikan untuk sementara, bukan hanya satu batch saja. "Saya atas dasar kehati-hatian itu meminta seluruh vaksin astrazeneca yang dipakai di Indonesia ini dihentikan sampai dipastikan vaksin ini benar-benar aman untuk masyarakat," tutur Saleh dikutip dari detikcom, Minggu (16/5).

Pemerintah sendiri telah memastikan keamanan penggunaan Vaksin AstraZeneca selain batch CTMAV547. Namun, Saleh meminta agar seluruh batch lain Vaksin AstraZeneca juga dihentikan demi memastikan keamanannya.

"Seluruh batch dan tipe, perlu dilakukan pengujian semuanya," jelasnya. "Jangan hanya itu yang diuji, diuji dulu semua dipastikan kalau itu memang betul aman bermanfaat."


Lebih lanjut, pemerintah dimintanya untuk berhati-hati dalam menyeleksi vaksin. Mengingat Vaksin AstraZeneca sebelumnya sempat menimbulkan polemik di negara lain.

"Saya sebetulnya mengharapkan pemerintah untuk benar benar berhati hati untuk menyeleksi vaksin yang akan dipergunakan di Indonesia, karena sebelum vaksin AstaZeneca ini masuk ke Indonesia itukan sebetulnya sudah ada polemik dan kontroversi terutama di negara- negara Eropa. Dimana pada waktu itu ada dugaan bahwa vaksin AstraZeneca ini menyebabkan pembekuan darah," katanya. "Tetapi Indonesia tetap saja menerima vaksin AstraZeneca untuk disuntikan. Bahkan kontroversi juga sampai ke Indonesia, karena diketahui vaksin AstraZeneca itu mengandung unsur babi, sebagian umat Islam menolak tapi majelis ulama menyampaikan diperbolehkan."

Selain itu, Saleh juga mempertanyakan mengapa pengujian baru dilakukan sekarang. Menurutnya, pengujian tersebut seharusnya dilakukan sebelum vaksin masuk ke Indonesia.

"Saya sebetulnya merasa heran juga, mengapa dilakukan pengujian, nah kita tidak tau kenapa baru sekarang dilakukan," paparnya. "Bukankah pengujian dilakukan oleh Badan POM sebelum barangnya masuk ke Indonesia, sehingga begitu masuk memang sudah betul-betul aman."

Sebagai informasi, batch CTMAV547 termasuk dalam bagian dari 3.852.000 dosis AstraZeneca yang diterima Indonesia pada 26 April 2021 melalui skema Covax Facility/WHO. Adapun batch tersebut telah didistribusikan untuk TNI dan sebagain dibagikan ke DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts