Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) lantas mengungkapkan kemungkinan penyebab lonjakan kasus positif hingga mencapai angka puluhan ribu per hari.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 26 Juni 2021 - 20:54 WIB
WowKeren - Kasus virus corona (COVID- 19) harian Indonesia kembali pecah rekor pada Sabtu (26/6) hari ini. Kementerian Kesehatan mencatat 21.095 kasus positif baru dalam sehari, sehingga jumlah kumulatif kasus corona di Tanah Air kini mencapai angka 2.093.962.
Berdasarkan sebarannya, DKI Jakarta lagi-lagi menyumbang kasus COVID-19 tertinggi hari ini, yakni 9.271 kasus. Disusul dengan Jawa Barat yang mencatat 3.787 kasus dan Jawa Tengah dengan 2.305 kasus.
Adapun lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia belakangan ini memang cukup mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) lantas mengungkapkan kemungkinan penyebab lonjakan kasus positif hingga mencapai angka puluhan ribu per hari.
Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas BNPB, Alexander Ginting, menilai mobilitas masyarakat usai mudik bukan satu-satunya kemungkinan penyebab lonjakan tersebut. Rendahnya disiplin protokol kesehatan dan kepedulian masyarakat dinilai juga bisa menjadi penyebab lonjakan tersebut.
"Persoalannya adalah kenapa 3M ini masih abai, kenapa 3T ini tidak maksimal dan kenapa vaksinasi ini belum bisa terjangkau ke masyarakat yang paling bawah, lansia ataupun sektor publik lainnya," jelas Alex dalam diskusi Polemik Trijaya FM, Sabtu (26/6). "Ini yang harus diselesaikan sehingga persoalan sakit itu akan berkurang."
Menurut Alexander, masyarakat kini bahkan masih sulit untuk diajak bekerjasama dalam hal testing COVID-19. Sebagai contoh ada beberapa masyarakat yang menolak hingga marah jika dilakukan testing COVID-19 gratis.
"Di Jembatan Suramadu, kita mau cegat mereka, dikasi swab yang gratis saja bisa ngajak kita duel," ungkap Alexander. "Padahal swab itu kalau dihitung harganya bisa 80-75 ribu per unit kalau lihat cost-nya."
Padahal testing tersebut juga dapat melindungi keluarga mereka di rumah. Karena hasilnya merupakan deteksi dini, apakah ia telah terpapar virus atau tidak.
"Dan itu swab itu adalah untuk melindungi istri dan anaknya di rumah, atau kalau ibu-ibu untuk melindungi anak-anaknya. Untuk mengetahui apakah dia sudah menular atau tidak," pungkasnya. "Jadi artinya itu yang harus kita lihat, bahwa respons masyarakat itu bermacam-macam."
(wk/Bert)