COVID-19 Varian Kappa 'Kakak Delta' Masuk RI, Lebih Berbahaya? Begini Kata Kemenkes
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Virus Corona varian Delta belum selesai menebar teror di Indonesia dan kini varian Kappa turut mencuri perhatian karena desas-desusnya lebih berbahaya. Benarkah?

WowKeren - Indonesia saat ini berjuang menghadapi virus Corona varian Delta yang sudah merajalela di berbagai daerah. Bahkan langkah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat mulai Sabtu (3/7) hari ini pun diambil demi menanggulangi virus Corona varian Delta tersebut.

Dan gelombang tersebut belum teratasi, kini publik digegerkan dengan temuan varian Kappa yang sudah ada di DKI Jakarta. Temuan varian ini tentu saja setelah memeriksa whole genome sequencing (WGS) sampel yang dikirimkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Lantas apakah varian Kappa ini lebih berbahaya? Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan bahwa karakteristik varian Kappa tidak lebih cepat menular bila dibandingkan dengan varian Delta.

"Penularan varian Kappa tidak secepat varian Delta," tegas Siti Nadia kepada Beritasatu, Jumat (2/7). Namun menurut Siti Nadia, varian Kappa ini telah dijumpai juga di Sumatera Selatan sehingga sampai Jumat kemarin baru ada 2 kasus dikonfirmasi terinfeksi varian Kappa.


Siti Nadia membantah desas-desus yang menyebut varian Kappa menyerang anak-anak. "Itu tidak benar penularan lebih kepada anak-anak. Itu terjadi karena protokol kesehatan yang diterapkan pihak orangtuanya kendor," tutur Siti Nadia.

Untuk penderita COVID-19 dengan infeksi varian Kappa ini, diterangkan Siti Nadia, tak menunjukkan gejala klinis spesifik. "Untuk karakter spesifik dari varian ini atau tanda orang yang terpapar Kappa, saat ini tidak ada beda gejala klinisnya," paparnya.

Varian Kappa, alias B.1.617.1 masih satu garis keturunan dengan varian Delta (B.1.617.2) yang sangat disoroti tersebut. Namun berbeda dengan varian Delta yang masuk ke Variant of Concern (VoC) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian Kappa hanya masuk dalam Variant of Interest (VoI).

Meski demikian, Siti Nadia lagi-lagi menegaskan bahwa vaksin yang ada saat ini masih efektif mengatasi varian Kappa. Namun efek maksimalnya baru bisa dicapai kalau diikuti dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin.

Sementara itu, varian Delta sendiri telah mendominasi kasus COVID-19 global. Bahkan tercatat varian ini telah ditemui di 98 negara dan daerah.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts