Dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, dr Bob Wahyudin, mengimbau orangtua untuk melarang anaknya bermain di luar rumah.
- Bertilia Puteri
- Senin, 05 Juli 2021 - 14:15 WIB
WowKeren - Kasus virus corona (COVID- 19) di kalangan anak-anak Indonesia terbilang cukup tinggi. Pemerintah bahkan telah memulai program vaksinasi COVID-19 untuk anak usia 12-18 tahun demi mencapai kekebalan berkelompok.
Meski demikian, untuk mengetahui apakah anak terpapar COVID-19 atau tidak justru relatif lebih sulit dibandingkan kasus pada orang dewasa. Dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, dr Bob Wahyudin, menjelaskan bahwa anak-anak yang terpapar COVID-19 kerap menunjukkan gejala yang serupa dengan gangguan kesehatan yang umum.
"Gejala yang khas pada anak jika terkena COVID-19 tidak terlihat. Ini seperti 'jebakan Batman' dan membuat angka morbiditas tidak beranjak turun," papar Bob kepada detikcom, dikutip pada Senin (5/7). "Karena gejalanya hanya demam, batuk dan pilek, bahkan ada yang tanpa gejala sehingga orangtua tidak menyadarinya."
Menurut Bob, dokter bahkan sering luput mengidentifikasi gejala COVID-19 pada anak. "Awalnya si anak didiagnosa tifus atau demam berdarah, tapi setelah beberapa hari kok tidak membaik. Eh, ternyata COVID-19," jelasnya.
Selain itu, Bob juga mengungkapkan pengalamannya kala menangani seorang pasien anak yang demam tinggi, tes swab pasien tersebut menunjukkan hasil negatif. Namun karena tak kunjung sembuh, dilakukan cek antibodi terhadap pasien tersebut dan ditemukan bahwa mmunoglobulin M (IgM)-nya positif COVID-19.
"Bisa jadi karena sulitnya mendeteksi anak balita yang terkena COVID membuat catatan kasusnya rendah," papar Bob.
Tak hanya identifikasi yang sulit, perawatan anak yang menderita COVID-19 juga menjadi salah satu kendala. Pasalnya, pengobatan untuk anak agak terbatas.
Apabila pasien anak mengalami demam tinggi, maka hanya diberi obat demam. Sedangkan apabila mengalami sesak napas, kadang hanya diberi antibiotik saja.
"Tapi sekarang ini banyak dokter panik sehingga banyak obat dimasukin," tuturnya. "Sehingga kondisi pasien anak bertambah buruk."
Selain itu, pasien balita yang harus dirawat di ruang ICU tentu masih butuh ditemani oleh orangtua. Namun hal ini dapat membuat orangtua yang tadinya negatif berisiko tertular COVID-19 karena harus menemani sang anak.
Oleh sebab itu, Bob mengimbau orangtua untuk melarang anak-anak bermain di luar rumah untuk saat ini. Hal ini perlu dilakukan demi menghindari bahaya paparan COVID-19.
(wk/Bert)