1.031 Nakes Gugur Selama Pandemi COVID-19, IDI Desak Vaksinasi Dosis Ketiga
Wikimedia Commons/Javed Anees
Nasional

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menilai Indonesia sedang dalam kondisi darurat dan kritis karena ribuan nakes sudah gugur akibat terpapar COVID-19.

WowKeren - Ratusan pasien COVID-19 meninggal dunia di Indonesia setiap harinya, sebuah fenomena mengerikan yang sama sekali tidak boleh dipandang sebelah mata. Dan sejak tahun 2020 lalu, angka-angka tersebut membentuk total kumulatif, di mana 1.031 di antaranya ternyata dialami oleh tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan perawatan COVID-19.

Hal ini sebagaimana diungkap Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Lia Gardenia Partakusuma. Ribuan nakes yang tercatat meninggal dunia akibat COVID-19 ini, menurut Lia, adalah alarm bahwa saat ini situasi Indonesia tengah darurat dan kritis.

"1.031 pejuang pejuang kita telah gugur, kita telah meminta perhatian khusus kepada Bapak Presiden," tutur Lia dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI, Senin (5/7). "Situasi ini darurat dan kritis yang tidak bisa disamakan dengan situasi normal lainnya."

Menurut Lia, angka ini dihimpun dari beberapa organisasi profesi bidang kesehatan di seluruh Indonesia sampai 28 Juni 2021. Rincian mereka yang telah wafat di tengah pandemi COVID-19 adalah 405 dokter, 43 dokter gigi, 328 perawat, 160 bidan, dan 95 tenaga kesehatan lainnya.

"Ini yang kami minta tolong untuk menyelamatkan fasyankes," imbuh Lia. "Yaitu mohon memenuhi pembiayaan operasional, penyederhanaan birokrasi penagihan klaim."


Lia juga menyoroti beratnya beban tenaga kesehatan yang bahkan sulit untuk beristirahat dengan layak apabila terpapar COVID-19. "Kadang begitu positif COVID-19, istirahat belum sampai 2 minggu. Begitu negatif, mereka sudah diminta masuk kembali karena tidak ada tenaga yang cukup untuk melayani sekian banyak pasien," pungkas Lia.

Krisis ini ikut disoroti oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang mendesak diambil solusi dari segi perlindungan nakes. Yakni dengan menyuntikkan dosis ketiga alias booster vaksinasi COVID-19, seperti diusulkan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IDI, dr Slamet Budiarto.

"Kami mengusulkan agar tenaga kesehatan itu dilakukan vaksin yang ketiga," kata Slamet di agenda yang sama. "Karena banyaknya dokter dan nakes yang sudah terinfeksi dua kali tapi dia mengalami kesakitan yang sedang dan berat bahkan meninggal dunia."

Pasalnya saat ini efikasi alias tingkat kemanjuran vaksin Sinovac yang disuntikkan ke nakes masih simpang-siur. Indonesia sendiri menyebut efikasi Sinovac mencapai 65 persen, sedangkan angka berbeda diungkap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Vaksin Sinovac tiga kali untuk tenaga kesehatan," jelas Slamet. "Kita tidak tahu efikasi Sinovac yang sebenarnya versi WHO menyatakan bahwa efikasi ini 51 persen, tapi versi kita 65 persen, Brazil juga 50 persen."

"Jadi hemat kami tenaga kesehatan itu harus kita lindungi," lanjutnya. "Karena kalau dalam pelayanan kesehatan sakit otomatis dia tidak bisa melayani pasien dan yang dirugikan adalah pasien."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait