Vaksin Moderna sudah diedarkan secara luas di masyarakat dan beberapa di antaranya mengeluhkan efek samping yang konon lebih 'terasa' daripada jenis vaksin lain.
- Elvariza Opita
- Rabu, 25 Agustus 2021 - 15:48 WIB
WowKeren - Selain Sinovac dan AstraZeneca, masyarakat Indonesia kini juga bisa menerima dua jenis vaksin lain seperti Moderna dan Pfizer. Khusus untuk Moderna sudah disuntikkan ke lebih banyak orang dibanding Pfizer, sehingga kini banyak muncul juga pengakuan soal efek samping yang dirasakan para penerima vaksin tersebut.
Banyak yang mengeluhkan efek samping vaksin Moderna yang lebih "keras" dan "terasa" dibandingkan jenis vaksin lain. Yang paling awam seperti keluar bercak merah di tangan dan kaki pasca suntik, nyeri berlebihan di bekas suntikan, pusing, badan sakit, sampai ada yang merasa tekanan darahnya naik.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan pun buka suara. Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengklaim bahwa efek samping yang dirasakan setiap penerima vaksin Moderna akan berbeda-beda sesuai ketahanan diri individu.
"Kan biasa efek samping orang berbeda-beda responsnya ya," kata Siti Nadia kepada Kompas, dikutip pada Rabu (25/8). "Tapi ada juga yang tidak merasakan ada efek samping."
Siti Nadia pun mengimbau penerima vaksin Moderna, atau AstraZeneca juga bisa, untuk meminum obat penurun panas yang diberikan untuk mengatasi efek samping yang dialami pasca vaksinasi. Apabila efeknya semakin parah dirasa bahkan setelah istirahat dan minum obat, sebaiknya segera mendatangi fasilitas layanan kesehatan terdekat.
Namun sebenarnya apa penyebab efek samping yang dirasa berlebihan ini? Pertanyaan ini dijawab oleh Ahli Patologi Klinis Universitas Sebelas Maret Surakarta, Tonang Dwi Ardyanto.
Menurutnya, respons pertama tubuh setelah menerima vaksin mRNA seperti Moderna adalah dengan menangkap agen aktifnya menggunakan sel-sel otot. "Oleh sel otot, 'resep' dari vaksin diubah menjadi protein S (spike) kemudian dikeluarkan dari sel otot," tutur Tonang kepada Kompas, Senin (23/8).
Produksi protein S inilah yang memicu sel fagosit untuk mendatangi lokasi penyuntikan. "(Sehingga) terjadilah pembengkakan, kemerahan, dan nyeri," papar Tonang.
Namun efek samping ini, ditegaskan Tonang, hanya bersifat sementara karena protein S yang dibentuk tadi akan dibawa ke limfonodi untuk membentuk antibodi. "Wajar bila hampir semua merasakan peradangan, bengkak, dan nyeri di tempat suntikan ini," pungkas Tonang.
(wk/elva)