Laut Jakarta Tercemar Paracetamol, Adakah Bahayanya untuk Manusia?
Flickr/thisisinbalitimur
Nasional

Air laut di wilayah Teluk Jakarta tercemar paracetamol dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Lantas adakah dampak dari cemaran tersebut terhadap kesehatan manusia?

WowKeren - COVID-19 bukan satu-satunya isu kesehatan yang belakangan menjadi sorotan. Baru-baru ini, perhatian terarah kepada kondisi air laut di wilayah Teluk Jakarta yang tercemar paracetamol dalam konsentrasi tinggi, bahkan sampai ratusan nanogram per liter di daerah Ancol dan Angke.

Sebagai perbandingan, cemaran paracetamol di pantai Brasil adalah sebesar 34,6 ng/L. Penyebab di balik cemaran paracetamol dosis tinggi ini pun tengah diselidiki, namun tentu saja yang menjadi pertanyaan lain, apakah dampak dari kontaminasi farmasi tersebut?

Rupanya yang sejauh ini yang sangat dicemaskan adalah kelangsungan penangkaran kerang biru yang berada di sekitar lokasi tercemar paracetamol tersebut. Kandungan paracetamol yang tinggi disebut berdampak pada organ reproduksi kerang biru, walau efek signifikannya belum bisa dilihat dari jauh.

Hal ini juga dipertegas kembali oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Brighton Inggris, Wulan Koaguow. Wulan memang menjadi salah satu peneliti yang terlibat dalam riset kandungan cemaran paracetamol di laut Teluk Jakarta tersebut.


"Jika konsentrasinya selalu tinggi dalam jangka panjang, ini menjadi kekhawatiran kami karena berpotensi buruk bagi hewan laut," tutur Wulan lewat keterangan tertulisnya, Senin (4/10). Namun efek lebih lanjut dari cemaran paracetamol terhadap lingkungan, menurut Wulan, masih harus diteliti lebih jauh.

Lantas Wulan merujuk pada hasil penelitian di laboratorium, di mana paparan paracetamol pada konsentrasi 40 ng/L menyebabkan atresia pada kerang betina dan memicu reaksi pembengkakan. Sedangkan riset di Korea Selatan menunjukkan zooplankton terpapar paracetamol mengalami peningkatan kadar stres oksidatif.

"Yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan," terang Wulan. "Yang berperan dalam mempertahankan homeostasis."

Lalu bagaimana dampak cemaran paracetamol di laut ini untuk manusia? Peneliti BRIN Zainal Arifin menyebut dampak terhadap manusia masih memerlukan analisis lebih lanjut.

Wulan pun ikut menyampaikan hal serupa. "Jadi yang saya hanya bisa bilang di sini, saya belum lihat efeknya di manusia. Karena memang konsentrasinya rendah dibandingkan paracetamol yang kita makan, kita minum, Secara logika harusnya efeknya kecil," jelas Wulan.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait