Meski Vaksinasi COVID-19 Dosis Kedua Di DKI Capai 92 Persen, Pakar Sebut Belum Aman
pexels.com/Nataliya Vaitkevich/Ilustrasi
Nasional

Capaian vaksinasi COVID-19 dosis kedua di DKI Jakarta diketahui sebesar 92 persen. Akan tetapi, dengan capaian ini, bukan berarti pandemi di DKI telah aman atau berakhir.

WowKeren - Masing-masing pemerintah daerah (Pemda) berupaya untuk terus mendorong vaksinasi COVID-19 agar bisa turun level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Dengan begitu, suatu daerah yang bisa turun level, juga akan mendapat sedikit pelonggaran kebijakan PPKM level.

Saat ini, capaian vaksinasi COVID-19 dosis kedua di DKI Jakarta diketahui sebesar 92 persen. Meski demikian, menurut Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane, menyebut bahwa kondisi pandemi COVID-19 di DKI belum bisa dikatakan aman.

Menurut Masdalina, program vaksinasi COVID-19 yang telah berhasil mencapai 92 persen dosis kedua itu, bisa saja "ambyar" apabila muncul varian baru atau virus Corona (COVID-19) yang memiliki kemampuan melarikan diri dari antibodi vaksin seperti varian B.1.621 atau Mu teridentifikasi di Indonesia. Menurutnya, apabila varian Mu ini masuk dan menyebar di Indonesia, maka vaksinasi yang telah dilakukan selama ini bisa saja sia-sia.

"Jadi 70 triliun yang dikeluarkan pemerintah, kalau varian itu masuk dan banyak, itu tidak terlalu ada dampaknya. Tetap mereka bisa saja terinfeksi dan berat," terang Masdalina kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/10).


Maka dari itu, Madalina meminta agar pemerintah untuk aktif melakukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) agar sebaran varian baru COVID-19 dapat segera teridentifikasi. Kemudian proses penelusuran kontak erat juga bisa segera dilakukan secara agresif dan masif sebelum penularan semakin menyebar luas.

Lebih lanjut, Masdalina menuturkan bahwa varian Mu tidak separah varian Delta dalam hal penyebaran dan penularan, serta meningkatkan risiko keparahan gejala klinis ataupun perburukan gejala pada pasien COVID-19. Hal ini dikarenakan varian Mu merupakan reproduction number tidak seperti Delta yang sampai 6-8 kasus.

Kemudian, Masdalina menekankan bahwa DKI Jakarta patut menjadi sorotan lantaran memulai vaksinasi lebih awal dibanding daerah lain. Sehingga, ketahanan antibodi masyarakat DKI pada Oktober 2021, sudah cukup menurun.

Berdasarkan studi daya ketahanan antibodi pascavaksinasi, kata Masdalina, bisa menurun setelah sekitar 6 bulan. Akan tetapi, lebih dari 50 persen masyarakat DKI dinilai telah memiliki antibodi alamiah pascainfeksi COVID-19. Selain itu, ia pun cukup optimis bahwa DKI sudah cukup bisa mengendalikan pandemi, dibuktikan dengan penurunan kasus secara signifikan selama 15 pekan.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait