Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai mayoritas masyarakat Indonesia telah imun terhadap COVID-19. Baik karena perlindungan vaksin, ataupun imunitas alami yang terbentuk pasca terinfeksi.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 11 November 2021 - 10:13 WIB
WowKeren - Kasus virus corona (COVID-19) telah konsisten menunjukkan penurunan sejak bulan Agustus 2021 hingga sekarang. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 bahkan mencatat penurunan kasus positif pekan ini mencapai 12,2 persen.
Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, penurunan kasus positif ini bisa terjadi karena 80 persen warga Indonesia telah memiliki imunitas terhadap virus corona. Baik karena perlindungan vaksin, ataupun imunitas alami yang terbentuk pasca terinfeksi.
"Jadi kalau vaksin kita sudah kena 60 persen sebetulnya ada irisan sedikit sudah 80 persen populasi sudah memiliki imunitas, baik itu imunitas buatan maupun imunitas dari Tuhan (terinfeksi)," jelas Budi pada Rabu (10/11).
Data Kemenkes menunjukkan hingga saat ini sudah ada 127 juta orang di Indonesia yang telah menerima vaksinasi COVID-19. Angka tersebut mencapai 61 persen dari target.
"Itu salah satu penjelasan kenapa Indonesia sekarang turun karena penjumlahan imunitas vaksin ditambah imunitas dari Tuhan yang kadang nyatetnya enggak bagus," paparnya. "Saya rasa sudah so dominant sehingga (kasus positif di) Indonesia turun."
Lebih lanjut, Budi menggunakan Pulau Madura sebagai contoh. Menurutnya, tren kasus COVID-19 di Madura mengalami penurunan meski tingkat vaksinasinya masih rendah.
"Sampai termasuk Madura yang vaksin baru 25 persen. Mungkin imunitas Tuhan sudah 60 persen, jadi sudah 85 persen punya imunitas," jelasnya.
Pemerintah sendiri akan melakukan survei seroprevalensi dalam waktu dekat. Ini berguna untuk mengecek daerah yang selama ini tingkat tesnya minim.
Dugaan mayoritas masyarakat Indonesia telah memiliki imunitas pun akan bisa dibuktikan benar atau salah melalui survei ini. Rencananya, Kemenkes akan bekerjasama dengan WHO dalam melakukan survei di 100 desa yang tersebar di 34 provinsi.
"Itu akan ketahuan dengan seroprelavence survei Desember. Dan akan jalan setiap enam bulan kita ulang," ujarnya.
Di sisi lain, Budi juga meminta masyarakat untuk tetap mewaspadai lonjakan kasus COVID-19 menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pasalnya, kenaikan kasus COVID-19 di Tanah Air sebelumnya berkaitan dengan mobilitas warga.
"Jika libur Nataru ini bisa dilewati, maka kita bisa kendalikan (COVID)," pungkasnya.
(wk/Bert)