Pemerintah telah merencanakan program vaksinasi COVID-19 dosis ketiga alias booster pada 2022 mendatang. Namun sebenarnya seberapa penting vaksinasi booster ini?
- Elvariza Opita
- Selasa, 23 November 2021 - 13:36 WIB
WowKeren - Pemerintah sudah mengumumkan rencana vaksinasi COVID-19 dosis ketiga alias booster akan dimulai pada 2022. Namun sedianya vaksinasi booster ini akan diselenggarakan secara berbayar kecuali untuk penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan.
Namun sebenarnya seberapa penting penyuntikan dosis booster ini? Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa vaksinasi dosis lengkap dengan dua kali suntikan sudah tidak lagi relevan bila dikaitkan dengan riset soal COVID-19 saat ini.
Menurut Dicky, pencegahan maksimal dari COVID-19 adalah dengan menyuntikkan tiga dosis vaksin. Terkait dosis ketiga ini, dijelaskan Dicky, adalah upaya untuk meningkatkan sistem imunitas yang menurun dalam kurun waktu enam bulan pasca penyuntikan dosis kedua vaksin COVID-19.
"Bicara konteks sekarang dengan varian baru, menurunnya imunitas, yang disebut vaksinasi penduduk itu bukan dua kali suntik, harus tiga kali suntik," tegas Dicky dalam sebuah webinar, Senin (22/11). "Jadi definisi vaksinasi penuh itu bukan dua kali suntik, itu sudah tidak relevan dengan riset saat ini."
Bila menggunakan definisi baru tersebut, maka cakupan vaksinasi COVID-19 di Indonesia saat ini masih jauh dari target terbentuknya herd immunity atau kekebalan komunal. "Yang disebut cakupan 90 persen, 85 persen, 80 persen itu yang tiga kali suntik. Artinya masih jauh, karena sekarang yang dosis dua kali pun masih mengarah 50 persen, artinya perjalanan masih panjang," terangnya.
Kekebalan komunal memang bisa terbentuk tidak hanya dari bantuan vaksinasi tetapi juga karena infeksi yang terjadi di masyarakat. Namun imunitas yang timbul, baik akibat vaksinasi maupun infeksi alami pun menurut Dicky belum cukup untuk menghadapi pandemi COVID-19. Apalagi karena sekarang ada varian-varian baru.
Bukan hanya itu, kekebalan yang terbentuk secara alami juga lebih rendah dibandingkan dengan yang terbentuk usai vaksinasi. "Memang lama proteksinya sama, kurang lebih enam bulan, tapi respons imunitas yang timbul dari orang yang terinfeksi jauh lebih lemah dibandingkan hasil vaksinasi," lanjut Dicky.
(wk/elva)