Sedianya program vaksinasi COVID-19 dosis ketiga alias booster dimulai Januari mendatang. Namun muncul opsi untuk mempercepatnya setelah ditemukan transmisi lokal COVID-19 Omicron.
- Elvariza Opita
- Selasa, 28 Desember 2021 - 15:01 WIB
WowKeren - Konfirmasi satu kasus transmisi lokal COVID-19 varian Omicron membuat pemerintah bergerak cepat menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Termasuk mempercepat vaksinasi dosis ketiga alias booster yang sedianya berlangsung mulai Januari 2022.
Kemungkinan percepatan ini disampaikan oleh Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, saat mengonfirmasi satu kasus transmisi lokal. Hanya saja Siti Nadia juga memastikan booster baru diberikan setelah cakupan vaksinasi dosis satu mencapai 208 juta.
"Rencana vaksin booster ini sudah ada di skenario yang akan dilakukan pemerintah," kata Siti Nadia, Selasa (28/12). "Karena kemarin rencananya kita lakukan setelah 208 juta dapat dosis satu."
"Dengan adanya Omicron, maka pelaksanaan vaksinasi booster dilakukan percepatan. Apalagi melihat hari ini kita sudah mendapat transmisi lokal dan mungkin kita akan lihat bagaimana perkembangan permasalahan Omicron," paparnya melanjutkan.
Lantas seperti apa persiapan program ini? Menurut Siti Nadia, Indonesia sendiri saat ini sedang mematangkan rencananya, termasuk dengan melihat mekanismenya di berbagai negara lain serta mempertimbangkan ketersediaan vaksin.
Sementara terkait ketersediaan vaksin tentu tak bisa lepas dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurut Kepala BPOM, Penny Lukito, pihaknya baru bisa memberikan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization / EUA) terhadap sebuah produk vaksin untuk program booster bila uji klinis menunjukkan hasil yang baik.
"Jika uji klinis vaksin booster dengan vaksin sejenis dan jenis berbeda menunjukkan hasil yang baik, BPOM segera mengeluarkan izin penggunaan darurat," kata Penny kepada Kompas.com. Saat ini sejumlah merek vaksin sedang dalam proses registrasi di BPOM sebagai vaksin booster sejenis dengan vaksin primer atau homologus.
Registrasi tersebut menggunakan hasil uji klinis di negara lain. Beberapa vaksin yang masuk kategori ini adalah Pfizer, Sinovac, dan AstraZeneca.
Sementara vaksin booster yang berbeda dari vaksin primer (heterologus) juga sudah mulai diregistrasi seperti Zivifax. Di sisi lain, pemerintah juga membuka opsi menggunakan Vaksin Merah Putih serta Vaksin Nusantara sebagai booster.
(wk/elva)