Pihak Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan data temuan tersebut masih belum terlalu rinci dan terbatas pada hasil penelitian.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 25 Januari 2022 - 15:35 WIB
WowKeren - Lokasi semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, disebut memiliki "harta karun" berupa mineral logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga mencatat adanya potensi logam raw critical material dalam jumlah besar dan melebihi kapasitas logam tanah jarang di daerah tersebut.
"Tahun 2020 penyelidikan di sana, dan teman-teman kami terlibat dan lakukan kajian secara umum di Sidoarjo," ungkap Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono, dilansir CNBC Indonesia. "Ada indikasi logam tanah jarang ini, selain logam tanah jarang ada logam raw critical material yang jumlahnya lebih besar dari logam tanah jarang."
Menurut Eko, salah satu material langka yang ada di wilayah tersebut adalah Cerium (Ce). Diketahui, Cerium adalah unsur untuk sistem baterai dan dinilai berpotensi dapat digunakan untuk bahan dasar baterai.
"Dari hasil analisis Lab, kadar logam tanah jarang (LTJ) cukup rendah, dengan kadar tertinggi pada unsur Cerium (Ce)," papar Eko kepada CNN Indonesia.
Sementara itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya juga melakukan riset terhadap Lumpur Lapindo. Dari hasil tim terpadu riset mandiri (TTRM), ditemukan kandungan lithium pada Lumpur Lapindo.
"Badan Geologi meneliti istilahnya logam tanah jarang tadi, logam langka. Kita menganalisis yang satunya. Kita hanya menganalisis lithium lah istilahnya," jelas Amien kepada detikcom.
Pengamat Hukum Energi dan Pertambangan, Ahmad Redi, menjelaskan apabila lithium tersebut dalam jumlah besar, maka bisa dijadikan bahan baku material. "Itu bisa punya nilai ekonomi tinggi," katanya.
Menurutnya, dibutuhkan beberapa langkah untuk memanfaatkan potensi "harta karun" di Lumpur Lapindo tersebut. Misalnya dengan membangun pabrik dan industri pengolahan. Untuk kepentingan ekspor, diperlukan pula pembangunan smelter di dalam negeri.
Di sisi lain, pihak Badan Geologi Kementerian ESDM mengatakan data temuan tersebut masih belum terlalu rinci dan terbatas pada hasil penelitian. Adapun hasil penelitian yang ada saat ini bisa dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan target wilayah dalam penyelidikan lanjutan oleh para ilmuwan.
(wk/Bert)