Militer Myanmar Dinilai Gunakan Agama Buddha Demi Raih Legitimasi Untuk Kuasai Negara
Dunia

Pihak militer Myanmar disebut telah memanfaatkan agama Buddha yang dianut mayoritas warga negara itu. Militer Myanmar memanfaatkannya untuk mendapatkan legitimasi.

WowKeren - Kepala Militer Myanmar sekaligus pemimpin kudeta tahun lalu, Min Aung Hlaing berencana untuk membangun patung Buddha duduk terbesar di dunia. Tapi tampaknya ada sebuah kepentingan dalam rencana pembangunan tersebut. Yang termasuk dalam bagian dari usahanya membangun legasi sebagai pelindung agama Buddha.

Padahal tahun lalu tentara yang berada langsung di bawah komando Min Aung Hlaing telah membunuh hampir 1.500 orang dalam tindakan keras terhadap lawan militer. Di mana hal itu melanggar prinsip pertama dan terpenting agama Buddha, yaitu tidak melakukan pembunuhan. 

”Agama mereka adalah pertunjukan palsu, mereka tidak pantas disebut Buddhis. Kami tidak membunuh orang lain. Apa yang mereka lakukan sekarang bertentangan dengan ajaran Buddha. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka beragama Buddha tetapi mereka melakukan ini hanya untuk menguasai negara," ujar Agga Wantha, seorang biksu (30) dari Mandalay yang memimpin protes menentang kudeta.

Myanmar sendiri merupakan negara yang penduduknya 90 persen beragama Budhha. Min Aung Hlaing dinilai mencoba dan mengklaim semacam legitimasi di negara Buddhis yang telah berada di bawah kendali militer selama hampir 60 tahun terakhir ini. Itu berarti aliansi dengan para biksu terkenal dan pengingat reguler akan pengabdian perwira tinggi kepada Buddha, meskipun kampanye kekerasan terus berlanjut.


Kunjungan pimpinan militer ke biarawan terkenal dipublikasikan hampir setiap hari di media pemerintah sebagai bagian dari upaya hubungan masyarakat. Sebuah laporan dari Institut Perdamaian Amerika Serikat bulan lalu menunjukkan bahwa dukungan militer untuk agama Buddha meningkat hampir empat kali lipat setelah kudeta.

"Tentara sangat pandai menggunakan agama sebagai nilai jual mereka. Jika Anda seorang biksu dalam masyarakat, Anda memiliki rasa hormat mutlak dari penduduk. Inilah mengapa militer ingin menggunakannya karena itu adalah alat yang sangat efektif bagi mereka untuk memanipulasi masyarakat," beber Sai Thet Naing Oo, perwakilan negara Myanmar di Institut Pyidaungsu untuk Perdamaian dan Dialog, yang bekerja untuk menyatukan suara-suara politik yang berbeda di Myanmar.

"Jadi meskipun ada banyak hal lain yang bisa dia lakukan, Min Aung Hlaing selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi biksu populer,"lanjutnya.

"Mereka tidak punya banyak teman. Mereka melakukan apapun yang mereka bisa untuk mempertahankan atau mendapatkan teman dalam konteks di mana hampir semua orang membenci mereka. Jelas nasionalisme Buddhis adalah salah satu kartu yang dapat mereka mainkan, salah satu konstituen yang dapat mereka jangkau," pungkas Richard Horsey, penasihat Myanmar di International Crisis Group.

(wk/amel)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait