NeoCoV Disebut Bisa 3x Lebih Mematikan dari COVID-19 Jika Bermutasi ke Manusia, Begini Kata WHO
Dunia

Laporan terkait virus baru yang disebut NeoCov tersebut telah diterbitkan pada pekan lalu di situs pracetak bioRxiv oleh para peneliti di Universitas Wuhan.

WowKeren - Belum selesai pandemi COVID-19, kini ada virus baru lagi yang memicu kekhawatiran. Para peneliti di Wuhan telah memberikan peringatan pada spesies virus corona kelelawar baru. Virus itu disebut memiliki potensi tiga kali lebih fatal dibanding COVID-19.

Wakil Ketua Komisi Kesehatan Masyarakat Thailand Chalermchai Boonyaleephan pada Senin (31/1) mengatakan jika virus itu bermutasi dan menyebar ke populasi manusia, ia bisa berubah menjadi "Covid-22" dan akhirnya dinobatkan sebagai "MERS-CoV-2". Selain itu, ada juga kemungkinan bahwa gejalanya akan 3 kali lebih mematikan dari virus COVID-19.

"Covid-22 akan membunuh 17 juta orang, dibandingkan dengan COVID-19 yang telah membunuh 5,67 juta," ujarnya. Laporan terkait virus baru yang disebut NeoCov tersebut telah diterbitkan pada pekan lalu di situs pracetak bioRxiv oleh para peneliti di Universitas Wuhan. Virus yang disebut NeoCov itu pertama kali diidentifikasi pada 2011 dan tidak diketahui menular ke manusia.

Namun satu hal yang perlu dikhawatirkan adalah bahwa rupanya virus ini hanya perlu mendapatkan satu mutasi kunci lagi untuk menular ke manusia. Meskipun dapat menembus sel manusia menggunakan reseptor ACE2 seperti COVID-19, namun NeoCov saat ini tidak dapat melakukannya secara efisien, menurut studi yang belum ditinjau rekan sejawat itu.


"Kerabat dekat MERS-CoV pada kelelawar menggunakan ACE2 sebagai reseptor fungsional mereka," tulis para peneliti. "NeoCoV hanya tinggal satu mutasi lagi untuk menjadi berbahaya bagi manusia."

Menurut mereka, NeoCov lebih mirip dengan MERS 2012. Ini merupakan sindrom pernapasan Timur Tengah yang pertama kali muncul di Arab Saudi. MERS memiliki tingkat kematian sekitar 34 persen.

Para peneliti menemukan bahwa antibodi untuk COVID-19 dan MERS tidak dapat melakukan penetralan silang terhadap infeksi NeoCoV. Sehingga hal itu membuat antibodi yang diperoleh dari vaksin saat ini dan infeksi sebelumnya dari saudara virus corona menjadi tidak berguna.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun buka suara mengenai hal ini. Pada Jumat pekan lalu, mereka mengatakan bahwa NeoCov masih perlu dipelajari lebih lanjut untuk memastikan apakah bisa menginfeksi manusia.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait