Para kritikus menyoroti ironi ketika orang kaya menggelar pesta hingga merusak alam sedangkan Venezuela tengah menghadapi keruntuhan ekonomi berkepanjangan.
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 12 Februari 2022 - 15:04 WIB
WowKeren - Menggelar pesta ulang tahun memang hal menyenangkan yang banyak ditunggu-tunggu. Pemilihan tempat pun biasanya dilakukan dengan banyak pertimbangan. Namun yang jelas, bukan di gunung yang disakralkan.
Sebuah pesta ulang tahun baru-baru ini menuai kecaman karena digelar di sebuah gunung yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Peristiwa itu terjadi di Venezuela, yang menimbulkan kemarahan karena tentu saja, pesta itu menimbulkan kerusakan.
Pesta itu digelar sekitar pekan lalu. Para hadirin diangkut menggunakan helikopter ke gunung berpuncak datar yang dikenal sebagai Kusari. Gunung ini terletak di taman nasional Canaima di wilayah Amazon selatan Venezuela yang kaya secara ekologis, menurut sebuah pernyataan oleh kelompok lingkungan SOS Orinoco.
Adapun pengusaha yang menggelar pesta itu adalah Rafael Oliveros. Para kritikus menyoroti ironi ketika orang kaya menggelar pesta hingga merusak alam sedangkan negara itu tengah menghadapi keruntuhan ekonomi berkepanjangan.
Dalam bahasa Pemon asli, gunung seperti itu disebut "tepuy," yang dipuja salah satunya karena kehidupan tanamannya yang sangat langka dan rapuh. Nazario Rosi, sesepuh Pemon berusia 63 tahun, mengatakan kepada Reuters bahwa peristiwa itu dianggap sebagai penghinaan Ibu Pertiwi.
"Ini adalah pelanggaran terhadap Ibu Pertiwi karena ini adalah gunung yang suci dan tak tersentuh yang secara tradisional kami jaga, lestarikan, dan hormati, sama seperti nenek moyang kami," kata Rosi. "Mereka benar-benar menebangi tanaman lokal."
Pesta tak berizin tersebut membuat penduduk marah. Sebab, area tersebut telah dibiarkan seolah-olah disapu dengan kasar. Dia menekankan bahwa budaya Pemon melarang siapa pun untuk naik ke puncak Kusari.
Para undangan yang sempat mengunggah acara tersebut ke media sosial segera menghapus postingan yang mereka buat seiring dengan kemarahan publik. Rosi dan Roberto Simon, pemimpin adat lainnya, mengatakan jika mereka tidak pernah dimintai izin terkait acara tersebut.
SOS Orinoco telah melaporkan kerusakan tersebut kepada pejabat UNESCO. Gabriel Figueroa, anggota komunitas Pemon menilai bahwa potensi kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada lanskap puncak Kusari sangat mengkhawatirkan. "Ini merupakan penghinaan," kata Figueroa.
(wk/zodi)