Wamenlu Rusia turut hadir dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas solusi diplomatik atas krisis di Ukraina. Namun pihak Rusia masih enggan menyatakan dengan tegas tidak akan menyerang Ukraina.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 18 Februari 2022 - 12:56 WIB
WowKeren - Melihat ketegangan antara Rusia dan Ukraina yang hingga saat ini tak kunjung menunjukkan mereda, bahkan dinilai semakin memanas, membuat anggota Dewan PBB pun bertemu. Dalam pertemuan tersebut, para anggota Dewan PBB menyerukan solusi diplomatik.
Melansir AP News, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia pun diketahui juga menghadiri pertemuan tersebut dan mengatakan segala sesuatu harus dilakukan untuk menemukan solusi diplomatik. Meski demikian, ia disebut tidak menanggapi seruan dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken untuk menyatakan dengan tegas bahwa Rusia tidak akan menyerang Ukraina.
Maka dari itu, Blinken menyebut bahwa ancaman paling langsung terjadap perdamaian dan keamanan internasional di dunia saat ini masih tetap ada, dengan semua mata masih tertuju pada Rusia.
Adapun pertemuan tahunan Dewan Keamanan itu diadakan oleh Rusia untuk fokus pada implementasi Perjanjian Minsk yang bertujuan memulihkan perdamaian di Ukraina timur, di mana separatis yang didukung oleh Rusia telah berperang dengan pasukan pemerintah sejak invasi Moskow ke Krimea pada tahun 2014 silam.
Kemudian, dalam sesi terbuka itu juga menyatukan semua pemain kunci yang saat ini menghadapi keluhan keamanan yang lebih luas dari Moskow, yang diketahui menuntut larangan NATO agar Ukraina bergabung dengan aliansi, yang menurut anggotanya tidak mungkin.
Di sisi lain, Blinken menyinggung pidato dari pendahulunya yakni Colin Powell di Dewan Keamanan pada tahun 2003 silam yang memaparkan bukti AS tentang senjata pemusnah massal Irak menjelang invasi Amerika yang ternyata keliru. "Saya di sini hari ini bukan untuk memulai perang, tetapi untuk mencegahnya."
Meski demikian, Blinken juga mengatakan bahwa informasi AS menunjukkan lebih dari 150 ribu tentara uang dikumpulkan Rusia di sekitar Ukraina dan digua bersiap untuk melancarkan serangan terhadap Ukraina dalam beberapa hari mendatang.
Ia menyebut dunia dapat mengharapkan Rusia "untuk membuat dalih" untuk serangannya, mungkin mengarang pemboman teroris di dalam Rusia, menemukan penemuan kuburan massal, melakukan serangan pesawat tak berawak terhadap warga sipil atau serangan palsu atau nyata menggunakan senjata kimia.
Sementara itu, dalam beberapa hari terakhir, media Rusia "telah mulai menyebarkan beberapa alarm dan klaim palsu ini, untuk memaksimalkan kemarahan publik," bunyi laporan, dikutip Jumat (18/2).
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Vershinin dalam pertemuan itu disebut tidak membahas pembangunan militer di perbatasan Ukraina. Sebaliknya, ia justru menuduh Ukraina gagal menerapkan Perjanjian Minsk yang disebutnya sebgai "satu-satunya dasar hukum untuk menyelesaikan konflik sipil di timur Ukraina."
Selain itu, Vershinin juga menuding ada "sponsor Barat" Ukraina yang mendukung pemerintah, yang telah mendorong "para pemarah Ukraina ke alasan baru dan petualangan militer melawan rakyat mereka sendiri."
"Berjuta-juta di Donbass (timur) masih ditampilkan sebagai orang asing di negara mereka sendiri. Mereka memiliki senapan otomatis, senapan sniper, Howitzer, dan drone serang yang ditargetkan pada mereka," ungkap Vershinin.
(wk/tiar)